9.8.05

Tragedi Sendiri Cari

"Abang Ni, Pakai Tu Elok-Elok La Sikit," Kata Liza
Lembut Sambil Membetulkan Pakaian Usin. Usin
Tersenyum Memandang Isterinya.

"Cantik Isteri Abang Hari Ni," Usin Mencubit Pipi
Liza Lembut.

"Ayah, Ayah, Cepat La Yah," Farah Dan Adi
Meluru Masuk Ke Bilik Kerana Dah Tak Sabar-
Sabar Nak Bertolak Pulang Ke Kampung.

"Yelah, Yelah, Ayah Dah Siap Ni."

Liza Hanya Tersenyum Melihat Suaminya Itu
Melayan Karenah Anak-Anak Mereka Yang Comel
Dan Manja.

"Abang, Dah Lama Kita Tak Balik Kampung
Macam Ni, Ye ?"

"Iyelah, Maklumlah Abang Ni Sibuk Dengan
Urusan Perniagaan. Baru Kali Ni Abang Ada
Peluang Untuk Cuti Panjang." Usin Berkata
Kepada Isterinya Tercinta.

Perjalanan Daripada KL Ke Tangkak Mengambil
Masa Lebih Kurang Empat Jam. Farah Dan Adi
Dah Pun Terlelap Kat Kerusi Belakang. Begitu
Juga Dengan Isterinya, Liza.

"Tak Sabar Rasanya Nak Tiba Kat Kampung,"
Usin Berkata Dalam Hati.

Sedikit Demi Sedikit Usin Menekan Minyak
Keretanya. Semakin Lama Keretanya Semakin
Laju Dan Usin Semakin Seronok. Usin Dah Tak
Sabar Untuk Segera Sampai Ke Kampungnya.
Pedal Minyak Ditekannya Lagi Dan Honda
Civicnya Mula Memecut.

Usin Cilok Kiri, Cilok Kanan. Habis Semua
Kenderaan Dipotongnya. Bangga Betul Usin Masa
Tu. Terlupa Dia Sekejap Pada Anak Dan Isterinya
Yang Sedang Tidur.

"Eh Abang, Kenapa Bawa Laju Sangat Ni?" Tiba-
Tiba Liza Terjaga Dari Tidurnya.

"Tak Ada-Apa La Sayang, Rileks... Cepat Sikit
Kita Sampai Kampung Nanti."

"Sabar Bang, Sabar. Biar Lambat Tak Apa...
Jangan Laju Sangat Bang, Liza Takut." Liza Cuba
Memujuk Usin Supaya Memperlahankan
Kenderaannya.

"Rileks Liza...Tak Ada Apa-Apa," Usin Terus
Memotong Bas Skspres Di Depannya Tanpa Was-
Was.

"Haaa... Kan, Tengok. Tak Ada Apa-Apa Kan?"
Kata Usin Setelah Berjaya Memotong Bas
Ekspres Tadi.

"Sudah La Tu Bang."

"Ha... Tu Ada Satu Lagi Bas Ekspres. Liza Tengok
Abang Potong Dia Aaa....". Usin Terus Masuk
Gear 3, Pedal Minyak Ditekannya Hingga Jejak Ke
Lantai. Usin Terus Membelok Ke Kanan Untuk
Memotong Dan.... Di Depannya Tersergam
Sebuah Lori Balak Yang Besar Dan Gagah Dan.....
BANG!!

"Usin.... Bangun Sin," Sayup-Sayup Terdengar
Suara Emaknya. Usin Membuka Matanya. Dia
Terlihat Emaknya Di Situ.

"Mana Liza Mak ? Macammana Dengan Liza
Mak ? Farah, Adi.... Mana Anak-Anak Saya
Mak ?" Bertubi-Tubi Usin Menyoal Emaknya. Usin
Tak Dapat Menahan Kesedihannya Lagi. Usin
Menangis Semahu-Mahunya Di Depan Emaknya.

Emaknya Memandang Usin Tepat-Tepat.

"Macamana Dengan Isteri Usin Mak, Liza?" Usin
Masih Terus Menangis.

PAANNNGGG!!

Kepala Usin Yang Botak Itu Ditampar Oleh
Emaknya Dengan Tiba-Tiba. Usin Terdiam.
Kenapa Emaknya Buat Dia Macam Tu?

"Banyak La Engkau Punya Isteri ! Keja Pun
Pemalas Ada Hati Nak Berbini. Tu La, Tidur Lagi
Senja-Senja Macam Ni ! Dah ! Bangun Pegi
Sembahyang !" Emaknya Terus Merungut Sambil
Berlalu Keluar....

...Dan Usin Tersengih Keseorangan. Rasa Macam
Nak Masuk Dalam Tin Biskut ! Malu Beb !!

Sekian.

Moral : Pandulah Dengan Berhati-Hati Walaupun
Di Dalam Mimpi

1.8.05

Memperebutkan Kebenaran Firman

Oleh: Moeslim Abdurrahman

Sejalan dengan turunnya wahyu, Tuhan sesungguhnya tidak hanya bersabda, tetapi juga berbicara. Oleh sebab itu, wahyu bukanlah turun dalam alam sejarah yang kosong.

Dalam sejarah turunnya wahyu Al Quran, ada yang disebut asbab an-nuzul, yakni mengapa Tuhan ikut berbicara, menanggapi persoalan atas kasus kehidupan yang terjadi di zaman rasul-Nya itu. Tuhan, saat turunnya wahyu itu, memang dalam banyak kejadian terlibat langsung dalam perbincangan, ikut menanggapi persoalan yang muncul.

Dengan begitu, artinya, Tuhan terlibat dalam percakapan sejarah, percakapan dengan orang-orang yang secara aktual menghadapi permasalahan yang muncul saat itu, yang kemudian percakapan Tuhan itu dalam perkembangannya lebih jauh menjadi dokumen kitab suci. Secara hermeneutik, memang hal ini menjadi soal yang rumit. Sebab, kehadiran Tuhan dalam percakapan itu (dalam dialog Tuhan dan pergumulan sejarah) Tuhan memang tidak hadir sendiri.

Kehadiran-Nya merupakan double discourse. Maksudnya, Rasul yang menyatakan bahwa ini lho Tuhan bersabda dan beginilah kehendak-Nya. Rasul menyampaikan itu atas nama Tuhan dan kita orang-orang beriman percaya bahwa Rasul tidak berbohong sebab Rasul itu ma’sum dari perbuatan seperti itu.

Para Mubalig

Sekarang ini, setelah Rasul meninggal, double discourse itu tetap saja berlangsung. Para mubalig dan ustadz, dalam menerangkan kebenaran, sambil mengutip firman Tuhan dalam khotbah-khotbahnya, menunjukkan ini lho, atau begini lho kehendak Tuhan yang sebenarnya.

Padahal, sesungguhnya, otoritas itu tidak ada lagi karena kita tidak saja telah ditinggalkan Rasul, tapi juga karena kehidupan yang kita alami dan perjumpaan kita dengan sejarah serta sebagai audiens wahyu sangat berbeda dengan zaman Rasul itu.

Kita telah berada dalam lokus kehidupan aktual yang berbeda biar pun sebagai orang yang beriman tentu akan selalu menempatkan sabda Tuhan itu sebagai referensi normatif yang sangat penting.

Masalahnya apa sesungguhnya yang terjadi dengan wahyu sekarang ini, tidak lain karena sabda itu telah terpenjara dalam kata-kata, dalam dokumentasi yang disebut kitab suci dan kehendak Tuhan itu tidak lagi eksplisit yang maknanya baru kembali muncul jika diberikan tafsir-menafsir sesuai dengan spekulasi kita sendiri.

Oleh karena itu, tafsiran kita mengenai kehendak Tuhan itu boleh jadi, bisa benar atau bisa tidak. Sebab, seperti kita ketahui bahwa Tuhan telah berhenti bercakap dengan sejarah dan sabda-Nya telah menjadi kitab suci yang literal.

Di era perbenturan kaum fundamentalis sekarang ini, munculnya meaning surplus dari proses penafsiran untuk menemukan beragam makna tentang kehendak Tuhan yang sesungguhnya di balik firman yang literal sering kali ditolak.

Tanpa totalitas

Dengan alasan bahwa ”kebenaran” itu tidak mungkin kecuali dalam totalitasnya. Tanpa hal itu, secara jujur seharusnya mengakui bahwa apa pun tafsiran kita mengenai teks kewahyuan, tetap saja tidak bisa diingkari bahwa hal itu tidak lain adalah pernyataan kita dalam double discourse tersebut.

Sebab, sebagai hamba Tuhan, masing-masing di antara kita sebagai subyek yang beriman, kehadiran Tuhan dan kehendak-Nya dalam keberagamaan sehari-hari tentulah berbeda antara satu dengan lainnya.

Itulah rahmat yang harus disyukuri karena dengan meaning surplus itu kita sebenarnya memperoleh banyak ruang untuk mendekati terus-menerus untuk menemukan konstruk kehendak Tuhan itu, tanpa harus menyejajarkan sebagai Rasul dalam menentukan, ini lho makna kebenaran yang semestinya yang secara otoritatif ditunjukkan dari Yang Mahabenar.

Tuhan sebagai pemilik kebenaran memang tidak membutuhkan interpretasi. Namun kita, umat manusia, membutuhkannya karena kita telah jauh dari akar teologi yang awal dan kita harus melintasi berbagai penjumlahan sejarah dan peradaban.

Oleh karena itu, the sense of the text tidak mungkin terdapat dalam bunyi literalnya, tetapi selalu dipungut oleh manusia sendiri, oleh pergumulan sejarah di luar inskripsi ayat-ayat suci itu.

Sekadar contoh, tatkala kaum Muslimin menjumpai sejarah munculnya ideologi sebagai utopian, maka Al Quran tentulah dibaca dalam kaitan mencari dasar-dasar ideologis tersebut, begitu pula tatkala zaman baru mulai menganggap bahwa negara bangsa yang modern dipandang sebagai pencarian bentuk politik hidup bersama yang lebih demokratis, maka tidak lain konsep seperti itu juga dicarikan rujukannya ke kitab suci.

Tak pelak, tatkala kaum Muslimin menganggap sistem pemilihan umum adalah bentuk pencarian yang dianggap paling sesuai dan paling dekat dengan kehendak Tuhan agar kaum Muslimin menerapkan musyawarah dalam pengambilan keputusan kolektif, jelas sistem seperti itu akhirnya menjadi pilihan di mana-mana.

Dengan begitu, sesungguhnya makna wahyu memang merupakan pemunculan dan bukan sesuatu yang sudah tersedia sebelum sejarah baru akan mulai.

Kini kita menghadapi zaman baru, suatu kehidupan umat manusia yang sering disebut post-modernity, zaman di mana rasionalitas tidak lagi tunggal seperti diagungkan sebelumnya dalam alam pikiran modernitas.

Begitu pula di zaman post- ini, tidak lagi dipercaya bahwa sign masih stabil mewakili makna dirinya. Sungguh suatu zaman yang tidak saja membuahkan kebimbangan, tapi juga ketidakpastian, dalam pengertian karena multivokalnya keimanan atau kebenaran.

Dalam keadaan seperti ini, kalau kita gamang bisa jadi membuahkan sikap ragu, apakah seharusnya kita memilih saja satu bentuk interpretasi ayat-ayat kewahyuan yang kita percayai secara fundamentalistik bahwa yang lain salah, ataukah secara jujur kita berani mengakui bahwa pluralitas kebenaran itu harus kita terima sebagai konsekuensi hasil buah pencarian dan imajinasi umat manusia?

Firman Tuhan

Perebutan makna-makna firman Tuhan ini dalam sejarah sering kali mendatangkan malapetaka kemanusiaan yang sangat tragis, jika itu terjadi dalam pergulatan politik dan relasi kekuasaan yang tidak adil.

Di mana-mana kekuasaan memang tidak ada yang netral dan kekuasaan cenderung menghadirkan Tuhan bahkan menggunakan proses semacam ini untuk melakukan manipulatif demi legitimasi yang diperlukan.

Akibatnya, wajah Tuhan terseret dalam pertikaian, dan Tuhan menjadi topeng de-humanisasi serta dalam kegiatan memperendah atau de-gradasi martabat kemanusiaan yang memalukan.

Tidaklah masuk akal, apalagi kalau dipertimbangkan secara nurani, misalnya ada sementara orang mengaku memperjuangkan keyakinan atas nama Tuhan sambil dengan seenaknya melakukan teror kemanusiaan yang tidak beradab sama sekali.

Tapi, ya itu tadi, kita memang sedang menjumpai zaman di mana sejarah umat manusia sedang mengalami paradoks dan krisis, seolah-olah moralitas kemanusiaan atau prinsip-prinsip humanisme yang paling dasar pun telah hilang dari peradaban dan dari proses politik kita sehari-hari.

Kalau begitu, masihkah proses politik dan keberagamaan kita memberikan sumbangan peradaban jika di mana-mana malah terjadi konflik atas nama firman Tuhan, selain memang alasan sesungguhnya untuk memperebutkan identitas dan sumber-sumber kehidupan yang materialistik sehingga kesadaran kolektif kemanusiaan sekarang ini terkeping-keping tidak lagi mencerminkan humanisasi?

Ini jelas tidak sekadar pertanyaan politis, tapi juga persoalan teologis yang sangat mendasar yang sedang terjadi dalam kehidupan umat manusia, sehari-hari dan ada di mana mana.

Suatu kebimbangan yang tragis, sering kali tatkala, misalnya, kaum beriman yang meyakini firman Tuhan ternyata dibuat ragu, masihkah tindakan teror yang kriminal terhadap kemanusiaan bisa dibenarkan atas nama keadilan?

Kebenaran di atas kebenaran tentunya sebuah proses pencarian. Namun jelas, kekerasan dan setiap bentuk tindak kriminal kemanusiaan adalah lawan yang nyata dan pasti dari kebenaran itu sendiri.

Dalam hal ini tidak ada ruang menafsir, misalnya tindakan kriminal kemanusiaan yang mana yang seharusnya kita pilih untuk melakukan hal itu. Setiap peradaban tidak mungkin ditegakkan tanpa mengakui bahwasanya manusia memang hidup dalam pluralitasnya dan tidak mungkin kebenaran diperjuangkan dalam bentuknya yang absolut.

Sebab, pada dasarnya kebenaran harus dicari bersama dan harus terus-menerus diperbincangkan. Kebenaran itu sendiri memiliki berbagai sudut, sama halnya alienasi kemanusiaan juga mempunyai keragamannya sendiri.

Oleh karena itu, kebenaran tidak pernah ada dalam singularitasnya sendiri, karena hal itu terdapat dalam kata-kata, dalam sejarah kebenaran yang dilingkari oleh budaya dan komunitasnya masing-masing.

Dalam aliran argumentasi tentang kebenaran yang muncul dalam perbincangan di ruang publik, tentu saja dalam membangun dialog peradaban sangat dibutuhkan sikap terbuka tanpa harus apriori, sebab tidak mungkin suatu kebenaran diperbincangkan sambil menghilangkan kebebasan, suatu nilai yang paling esensial dalam pencarian bersama tentang kebenaran itu sendiri.

Peradaban

Mungkinkah beragamaan umat manusia dapat menumbuhkan peradaban yang toleran dalam mencari kebenaran?

Saya kira bisa asalkan kita memiliki subyek Tuhan yang betul-betul Mahaakbar sebagai sumber imajinasi kebenaran, di luar keterbatasan manusia dengan sejarah komunitasnya masing-masing.

Tentu tidak perlu dalam hal ini kita harus membuang teks kitab suci masing-masing, namun dengan kebesaran Tuhan yang tidak terukur, interpretasi umat manusia tentang kebenaran di balik ayat-ayat-Nya akan selalu terbuka dan tidak bertepi, melampaui batas-batas anggapan, sangkaan, dan klaim setiap orang yang menemukannya.

Suatu dialog mencari dan memperbincangkan kebenaran dalam subyek Tuhan Yang Mahaluas seperti itu tentu harus tetap memberi ruang bagi mereka yang kita duga telah ”sesat” sebab pada dasarnya ”kesesatan” dan ”kebenaran” adalah sisi yang berbeda dalam pencarian kebenaran itu sendiri.

Bahayanya, sudah tentu, merupakan suatu yang ironis jika mereka yang mengklaim telah memiliki ”kebenaran” (atau ”kesesatan”) yang konstruktif itu malah menuhankan diri dalam wacana double dircourse (untuk membaca firman Tuhan), apalagi kalau hal itu disertai dengan tindakan represif yang sesungguhnya sangat melawan nilai-nilai moralitas kemanusiaan yang seharusnya dijunjung bersama.

Cita-cita Tuhan dan kehendak-Nya memang absolut, tapi tafsir manusia tentang itu jelaslah bagian dari sejarah kesadaran umat manusia yang relatif dan terbatas.

Dan hanya arogansi politik atau kekuasaan sajalah yang biasanya sering tidak malu menutupi kejujuran ini. Akankah kecenderungan seperti ini yang akan terjadi dalam kehidupan beragama kita?

Moeslim Abdurrahman, Ketua Al Maun Institute, Jakarta, Antropolog dari University of Illinois at Urbana Campaign, AS

29.7.05

Tiada dalil musafir dikecuali solat Jumaat

MAJORITI fuqaha berpendapat seseorang yang dalam perjalanan atau musafir yang mencukupi syarat mengqasarkan solat, tidak diwajibkan untuk mengerjakan solat Jumaat.

Hal itu kerana tidak diterima sebarang riwayat bahawa Nabi Muhammad SAW ada melaksanakan solat Jumaat dalam mana-mana peperangan atau perjalanan sepanjang hidupnya.

Begitu juga, tidak ada riwayat daripada sahabat sama ada ketika kehidupan Rasulullah atau selepas kewafatan Baginda, bahawa mereka ada melakukan solat Jumaat ketika musafir.

Bagaimanapun, seseorang yang bermusafir sangat dianjurkan supaya berusaha untuk menghadiri solat Jumaat berjemaah. Ia bagi mengelak daripada pergeseran dengan pendapat lain yang mengatakan solat Jumaat tetap wajib sekalipun bagi orang musafir.

Pendapat yang mewajibkan ini berhujah atas dasar bahawa tiada nas atau dalil sahih yang mengatakan bahawa seseorang yang musafir tidak perlu menghadiri solat Jumaat.

Oleh kerana tiada dalil yang mengecualikan suasana musafir, maka hukum solat Jumaat ini kembali pada perintah asal, iaitu tetap wajib bagi semua orang, mastautin mahupun musafir.

Tambahan lagi Nabi tidak mengecualikan seorang musafir daripada solat Jumaat kecuali wanita, budak belum baligh, orang sakit dan hamba sahaya.

Ada riwayat berbunyi: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka wajib ke atasnya solat Jumaat kecuali wanita atau orang musafir atau hamba sahaya atau orang sakit.” Bagaimanapun, riwayat ini tersangat daif kedudukannya.

Demikian juga sebuah lagi riwayat lain yang bermaksud : “Tidak wajib Jumaat atas orang musafir...” juga daif kedudukannya.

Kedua-dua hadis itu tidak boleh dijadikan hujah pegangan atau sumber rujukan hukum.

Justeru, sekalipun majoriti fuqaha berpendapat bahawa solat Jumaat tidak wajib ke atas orang musafir, tetapi sebagai pilihan selamat, digalakkan seseorang itu untuk tetap berusaha menghadiri solat Jumaat berjemaah.

Anjuran itu menjadi lebih berat mengingatkan banyaknya fadilat Jumaat itu sendiri berserta keutamaan solatnya.

Solat Jumaat ketika bermusafir juga membuka peluang untuk kita berkenalan dengan komuniti tempatan dan beramah mesra serta memperluaskan hubungan sesama umat.

23.7.05

Persediaan fizikal, mental menjelang usia tua

BAGI menghadapi usia tua, setiap orang harus membuat persiapan dari segi fizikal, mental, kerohanian dan sebagainya. Persiapan ini sebenarnya proses seumur hidup yang harus dilaksanakan oleh manusia.

Persiapan itu juga seharusnya dilakukan oleh orang yang sedang berada di ambang usia tua dengan penuh usaha dan sedar.

Tanpa persediaan menghadapi usia tua, seorang yang lanjut usianya mungkin mengalami rasa sepi dan tidak berharga. Malah, ada kalanya membawa kepada tekanan jiwa yang hebat.

Perasaan ini sangat mudah dialami orang yang berusia tua jika tidak bersiap untuk hidup sebagai seorang anggota tua dalam rumah tangga bersama-sama keluarganya, masyarakat dan orang ramai di daerah sekelilingnya yang lebih besar.

Dari sudut kerohanian dan keagamaan, sungguhpun beribadat juga amalan berterusan sepanjang hayat. Namun, orang lanjut usia, yang menginsafi kenyataan hidup, akan berasa lebih lazat dan puas dengan melakukan amal ibadat dengan lebih tekun dan berlipat ganda.

Amal ibadat yang dilakukan hendaklah difahami dalam konteks lebih luas. Ia bukan sekadar ibadat khusus seperti sembahyang saja sebaliknya wajar merangkumi kerja kebajikan, khidmat sosial, sukarela dan sebagainya.

Setiap insan mempunyai naluri yang tabii mengharapkan kehidupan yang panjang. Ia sering diungkapkan sebagai ‘panjang umur’. Orang sering berdoa semoga dikurniakan Tuhan umur yang panjang bagi dirinya dan orang lain yang dikasihinya.

Persoalan yang harus dipecahkan di sini apakah konsep umur yang panjang dan apakah hubungan umur panjang ini dengan kualiti dan kuantitinya?

Bagi orang Islam, ada syarat dan panduan al-Quran dan sunnah mengenai persoalan ini.

Kualiti umur

Firman Allah bermaksud: “...masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, pada hal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada seksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Surah al-Baqarah, ayat 96).

Ketentuan umur

Allah berfirman bermaksud: “... dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang dipanjangkan umurnya melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab.” (Surah al-Fatir, ayat 11)

Pusingan umur

Allah berfirman bermaksud: “Dan barang siapa yang Kami panjangkan usianya nescaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya (kembali menjadi lemah).” (Surah Yasin, ayat 68)

Keperluan meneruskan hidup

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Janganlah sekali-kali salah seorang antara kamu mengharapkan kematian, kerana apabila dia seorang yang baik, maka mudah-mudahan kebaikannya akan bertambah, tetapi apabila dia seorang yang melakukan kejahatan, semoga dia akan bertaubat.”

Kedudukan terbaik dalam usia lanjut

Rasulullah bersabda bermaksud: “Apabila Allah mengkehendaki kebaikan bagi seseorang, diberi-Nya kedudukan yang baik. Baginda ditanya: Bagaimanakah caranya diberikan kedudukan itu? Baginda menjawab: Ditunjukkan ke arah perbuatan yang baik sebelum (seorang itu) meninggal, dan setelah itu barulah dicabut nyawanya.”

Realiti usia tua

Penyakit tua tidak punya ubat. Rasulullah bersabda maksudnya: “Berubatlah kamu semua, kerana semua penyakit yang dijadikan Allah mempunyai ubatnya, kecuali satu penyakit saja yang tidak punya ubat, iaitu penyakit tua.”

Memanfaatkan usia tua

Anas ibn Malik menceritakan bahawa Rasulullah berdoa bermaksud : “Ya Allah, aku mohon perlindungan daripadamu dari sifat bakhil, malas, usia tua dan seburuk-buruk umur, seksa kubur, fitnah dajal, fitnah kehidupan dan fitnah kematian.”

Ternyata daripada kenyataan di atas bahawa:

  • Manusia paling baik ialah manusia yang panjang usianya serta baik amalannya.
  • Seburuk-buruk manusia ialah manusia yang juga panjang usianya, tetapi usianya itu dihabiskan untuk amalan yang buruk.
  • Alangkah bahagianya manusia yang dapat memanfaatkan usianya yang lanjut dengan pelbagai kegiatan berkualiti dan bermanfaat serta penuh kebajikan untuk dunia dan akhirat. Ia untuk Allah dan manusia, terutama keluarga sendiri, jiran tetangga dan semua orang di sekelilingnya.

Masjid Putra hasil gabungan seni bina Parsi, tempatan


KONSEP reka bentuk Masjid Putra berdasarkan seni bina Parsi zaman kerajaan Safawe. Keindahan itu digabungkan dengan seni bina dan reka bentuk tempatan, khususnya Melayu.

Seni bina tradisional digunakan bagi mengharmonikan perubahan bentuk segi empat (dewan solat) kepada berbentuk bulat (kubah) dengan memperkenalkan segi lapan sebagai bentuk perantaraan.

Identiti dan keunikan masjid ini dapat dilihat melalui konsep rekabentuk bertingkat-tingkat. Ini dipamerkan dari aras ke aras dengan pelbagai elemen menarik.

Masjid Putra di Putrajaya, dinamakan sempena Perdana Menteri pertama, Almarhum Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj.

Kedudukannya bersebelahan dengan Dataran Perdana dan berhadapan dengan Tasik Putrajaya menjadikan pemandangan di masjid ini cukup indah di lihat daripada pelbagai sudut.

Dari masjid ini dapat dilihat dengan jelas keindahan tasik dan kawasan sekitarnya. Kedudukan masjid yang dikelilingi sebahagian besar Tasik Putrajaya menjadikan Masjid Putra kelihatan terapung.

Satu lagi keunikan masjid ini adalah aras bawah dua yang menampilkan imej pertahanan kuat dengan bahagian bawahnya dihias dengan dinding dan benteng (buttress wall). Ia didirikan di sekeliling aras ini bagi memberi gambaran keteguhan.

Aras bawah pula, menggambarkan konsep terbuka di mana tiang berbentuk payung (umbrella column) dan ukiran yang direka (masyrabiah) dapat memberi perlindungan daripada hujan dan panas serta membolehkan pengudaraan semula jadi.

Konsep Masjid Putra yang terbuka ini membolehkan kesinambungan di antara saf dalam dengan luar.

Masjid ini turut mengandungi lapan kubah kecil yang membentuk empat penjuru dewan solat utama. Di sekeliling aras itu konsep terbuka jelas kelihatan dengan adanya tingkat besar yang dihiasi dengan masyrabiah.

Keunikan lain masjid ini ialah 16 tudung konkrit. Ia mengandungi aras yang bermulanya kubah utama.

Puncak kubah ini dihiasi dengan sebuah mercu tajam yang menghala ke langit.
Menara Masjid Putra pula berdiri megah setinggi 116 meter di sebelah kiri pintu gerbang masjid.

Menara berbentuk bintang lapan penjuru ini jelas memperlihatkan keunggulan seni bina dan seni reka Islam.

Ada lima tingkat pembahagi pada menara ini yang melambangkan lima Rukun Islam dan sembahyang lima waktu.

Kubah Masjid Putra berwarna merah jambu direka bentuk berasaskan `arabesque' iaitu ukiran tumbuhan seperti pada kubah masjid di Mesir.

Ukiran dan hiasan dalaman kubah dan masjid keseluruhannya diilhamkan dari seni ukir tradisional orang Melayu.

Penggunaan kayu cengal dan seraya hitam menghidupkan lagi seni ukir dalam masjid ini.

15.7.05

Membangunkan generasi berciri ulul al-bab

Oleh Abu Bakar Yang


Apa yang jelas kelihatan sekarang kepada dunia ialah tamadun dan kebudayaan Barat kini sedang dalam proses penurunan.

Perkembangan-perkembangan yang memperlihatkan peralihan tamadun dari Barat ke bahagian-bahagian lain di Asia, meletakkan dunia di tempat yang baru dalam sejarah.

Dunia yang suatu masa dulu gawat dengan suasana perang dingin kini berubah kepada babak baru ke arah pasca zaman moden. Cara pembangunan turut berubah dan memberi ruang kepada negara-negara membangun untuk memilih sendiri kaedah pembangunan yang sesuai dengan selera masing-masing.

Kini pembangunan dan kemajuan mengikut acuan sendiri menjadi ungkapan yang popular, disebut di mana-mana, walaupun untuk mencapainya masih perlu menempuh perjalanan yang jauh.

Begitulah juga halnya dengan negara kita, pembangunan mengikut acuan sendiri sudah pun disemarakkan. Cuma yang perlu diberi penekanan ialah pembangunan tersebut perlu menjadikan Islam sebagai asas dan agenda utama.

Sejarah telah membuktikan bahawa umat yang terdahulu yang maju hampir dalam serba-serbinya adalah kerana berpegang kepada ajaran al-Quran yang dinamik serta mampu untuk menggerakkan masyarakat.

Dalam proses menggerakkan masyarakat ke arah pembangunan, al-Quran menekankan kebangkitan generasi penggerak iaitu generasi ulul al-bab - mereka yang dapat menjelaskan dan menghuraikan jalan dan arah yang hendak dilalui.

Keazaman kita untuk membentuk kemajuan mengikut acuan sendiri akan terus kabur, sekiranya kita kekurangan golongan ulul al-bab yang dapat menghurai tujuan dan matlamat pembangunan.

Proses pembangunan yang bercirikan Islam ini juga memerlukan kepada kelahiran generasi penggerak yang memenuhi ciri-ciri ulul al-bab. Antara ciri-ciri penting ulul al-bab ialah persiapan kerohanian yang teguh yang dapat memulakan pembangunan Islam daripada permulaan yang betul, iaitu pembangunan yang berpusatkan kepada pembangunan manusia.

Keteguhan kerohanian yang dilengkapkan dengan ilmu pengetahuan serta dapat memperjelaskan dengan terperinci konsep, matlamat dan arah pembangunan yang ingin dibawa itu. Malah dapat menggerakkan sebarang bentuk pembangunan yang berteraskan tauhid dalam segala bidang sosial, sains dan teknologi, ekonomi, pendidikan, pengurusan, kebudayaan dan sebagainya yang mempunyai tenaga dan pengaruh dalam arus pembangunan hari ini.

Dengan berteraskan Islam dan berpusatkan pembangunan manusia, pembangunan yang akan dibina adalah sebenarnya bermula daripada pemikiran yang tertumpu kepada persoalan manusia dan nasibnya di dunia ini serta kesudahannya di akhirat.

Perincian mengenai persoalan inilah yang perlu dilaksanakan oleh generasi penggerak ini, dan sentiasa bersedia menghadapi masyarakat dengan penjelasan-penjelasan yang sudah semestinya memerlukan kepada keberanian, ketajaman dan kewibawaan ilmiah yang tinggi. Seiring dengan itu juga, tugas generasi penggerak ialah berusaha membangunkan kembali masyarakat Islam di atas asas-asasnya yang asal.

Desakan

Oleh itu, langkah pertama yang perlu dilaksanakan ialah memastikan masyarakat menerima sistem Islam dan memantapkan keyakinan kepada keunggulan sistem Islam untuk kehidupan yang sejahtera.

Tanda-tanda penerimaan itu kini telah menjadi fenomena yang merata, sekali gus turut membantu dalam usaha menggerakkan masyarakat ke arah penerimaan tersebut. Usaha untuk memantapkan kesedaran ini adalah penting, sehingga kesedaran individu itu menjadi suara desakan dan tuntunan ke arah melaksanakan sistem Islam yang lebih syumul.

Untuk mencapai kesedaran yang sebegini, maka perancangan-perancangan yang rapi perlu dibuat bagi memenuhi keperluan setiap peringkat pembangunan.

Di samping itu juga kita tidak mahu perubahan ke arah pembangunan yang Islamik ini dicemar dengan perancangan-perancangan lain yang sama ada sedar atau tidak membantutkan kemurniannya.

Dalam erti kata yang lain, proses membangunkan masyarakat ini juga turut disertai dengan program-program yang akan meruntuhkannya. Banyak contoh dapat menerangkan fenomena ini, yang mana satu pihak mengembangkan unsur-unsur pembangunan yang Islamik, sementara satu pihak lagi giat menjalankan usaha menyebarkan unsur-unsur negatif yang meruntuhkannya.

Kehadiran unsur penghalang inilah yang menyulitkan lagi usaha ke arah menjadikan masyarakat yang mantap dan yakin dengan sistem Islam yang unggul dan sejahtera.

Di atas kesedaran inilah umat Islam perlu memahami bahawa perubahan daripada pembangunan moden kepada pembangunan yang Islamik memerlukan kepada tenaga penggerak dan juga jihad. Jihad dalam erti kata pengorbanan diri, masa, pemikiran dan juga harta benda.

- Abu Bakar Yang ialah Pegawai Penyelidik Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).

3.6.05

Warna-warna lembaran al-Quran fenomena membangun kesedaran

Oleh: KALAM MAS

MENTARI pagi bersinar lembut. Langit begitu redup. Bumi bagaikan berselimut, dek cuacanya yang amat sejuk. Memang aneh. Ini pertama kali New Zealand bertamukan pameran manuskrip al-Quran alam Melayu berwarna penuh seperti ini. Bumi ini seakan-akan menanti saat kunjungan tetamu ini.

Kini, redup memohon diri, memberi laluan buat mentari bersinar ceria. Memang biasa jika pameran al-Quran dihadiri oleh tetamu Muslim. Namun, hari ini ada sedikit kelainannya. Rata-rata pengunjung pameran ini orang kulit putih tempatan atau Kiwi, walaupun ada juga dari Arab, Afrika dan tidak ketinggalan pelajar kita di sana.

Lembaran ayat, zukhruf (hiasan), emas dan warnanya tampaknya telah mengundang kekaguman. Sinar mata, senyum manis dan gerak badan menceritakan segalanya. ``Nama saya Mellisa. Tolong tuliskan nama saya dengan huruf itu (al-Quran) dengan hiasan warna yang anda gunakan?'' Sapa anak gadis bermata biru yang bersama ibunya, penuh sopan sambil menuding jari kecilnya ke arah lembaran al-Quran indah berwarna. Pena pun menari diiringi simfoni warna-warna di tepian kertas yang harmoni. Anak dan ibu itu pun beredar, men-

yertai manusia yang sedang asyik dalam keindahan warna-warna mushaf al-Quran.

Detik-detik di Christchurch menggamit perasaan yang amat sukar dilupakan. Setelah seminggu di tanah air, sampai berita dari sana bahawa 10 wanita kulit putih telah menyambut hidayah Allah. Masya-Allah! Apakah ia satu kebetulan, atau al-Quran telah menyentuh hati mereka? Engkau lebih mengetahui. Walau apa pun, izinkan daku menitip syukur buat-Mu, Ya Rahman. Semoga Engkau menemukan permata hidayah-Mu bagi kami, manusia yang masih di dalam pencarian.

Suasana di atas berdasarkan kisah benar daripada pengalaman mengikuti pameran al-Quran beriluminasi penuh di negara Kiwi, New Zealand. Kehadiran al-Quran adalah satu fenomena buat manusia seluruhnya. Al-Quran adalah keajaiban, namun bagaimana untuk menyampaikan mesej kepada manusia tentang keaja-

ibannya? Ikuti rencana kali ini yang memaparkan satu pendekatan dalam menarik minat manusia mendekati al-Quran. Ikutilah seni pewarnaan mushaf al-Quran.

Warna adalah bahasa. Bahasa warna akan lebih mudah difahami oleh dewasa dan diminati oleh kanak-kanak. Allah s.w.t. mencipta alam dihiasi dengan beraneka warna. Manusia mempunyai kelemahan, iaitu ia lebih mudah untuk terpesona dengan perkara yang tampak di mata. Manusia lemah dengan dunia yang bersifat material. Dia akan melihat sesuatu yang mahal, popular, cantik dan sebagainya itu sebagai baik. Perkara yang baik seharusnya diperlihatkan. Perkara yang baik, diletakkan pula pada wadah yang baik, menambahkan lagi kesukaan dan pengiktirafan manusia terhadap kebaikannya, walaupun sebenarnya kebaikan itu tetap baik walau tanpa diakui manusia.

Al-Quran dibaca dengan suara yang baik, menambahkan kesukaan orang kepada al-Quran. Ayat al-Quran ditulis dengan baik, memudahkan dan menambahkan minat untuk membaca. Kitab al-Quran, di-

cetak, dijilid, dan dihiasi dengan baik dan benar, menarik kita yang lemah ini kepada al-Quran. Penggunaan warna dalam lembaran al-Quran memainkan peranannya yang pen-

ting di sini. Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud: Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Ad-Duha 93:11). Rasulullah s.a.w. bersabda bermaksud: Hiasi al-Quran dengan suara mu. (Riwayat Bukhari).

Tidak semua manusia mampu untuk memahami ketinggian dan kedudukan al-Quran. Mata hanya dapat melihat yang zahir. Hanya akal dan hati sahaja yang dapat memikirkan dan merasai perkara yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar seperti ilmu, pemikiran, perasaan dan perkara ghaib. Maka, di sini seni mushaf memainkan peranan untuk memberi kefahaman kepada penglihatan zahir bahawa apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang tinggi. Maka sebab itu mushaf disalin, dihias dan diwarnakan sebaik mungkin, kerana itu cara yang paling cepat untuk menyampaikan mesej, bahawa al-Quran ini adalah penting dan mulia.

Mungkin bagi sesetengah orang, warna lembaran al-Quran adalah dihasilkan mengikut ekspresi rasa seniman mushaf (muzahhib). Tetapi khat, zukhruf dan pewarnaan al-Quran mempunyai maksud tersirat yang ditimba daripada pemahaman isi kandungan al-Quran. Ia tidak hanya memenuhi fitrah berseni, tetapi ia adalah usaha ilmuwan Islam menyingkap tabir hati untuk melihat makna kebesaran al-Quran, keagu-

ngan Pencipta dan realiti kehidupan manusia melalui penelitian isi kandungannya.

Warna di dalam mushaf al-Quran digunakan sejak awal abad pertama Islam. Hitam digunakan untuk huruf, sementara merah digunakan sebagai titik menentukan bacaan. Seni pewarnaan mushaf turut mengalami perkembangan sebagaimana seni khat dan zukhruf mushaf al-Quran. (Sila rujuk Sisipan Seni Siri 3)

Allah s.w.t. menciptakan alam ini berwarna. Warna mengajak kita memperhati gelagat alam dan memikirkan keajaibannya. Hati menyebut `Maha Suci Allah', apabila sesuatu keajaiban itu disingkap untuk kita saksikan. Alam ini mengkagumkan kita. Tidak hairan jika ada yang sanggup menghabiskan umurnya untuk mengkaji serangga sekecil semut. Al-Quran itu adalah daripada Allah Maha Pencipta, sebagaimana alam itu adalah daripada Dia Maha Pencipta juga. Jika begitu sekali ketakjuban kita terhadap alam, maka tidakkah wajar untuk kita kagumi kewujudan al-Quran, mengkaji dan menghabiskan umur kita kerananya? Sedangkan al-Quran itu sendiri adalah fenomena, ia wujud tanpa manusia melakukannya. Warna pada mushaf mempunyai pe-

ranan yang sama kerana ia menarik mata untuk memandang al-Quran sebagaimana warna menarik mata mengkaji keajaiban alam. Adalah penting manusia dibawa mendekati khazanah al-Quran, dan di antara sebab yang boleh mendekatkan manusia kepada al-Quran ialah melalui penggunaan warna pada lembaran al-Quran.

Alam memang indah dan diperkaya dengan beraneka warna, maka dalam mencipta seni zukhruf, kita harus menggunakan beraneka warna juga. Oleh kerana itu, dalam mengatur warna manuskrip al-Quran beriluminasi penuh, Black & Brown menggunakan warna yang beraneka ragam. Warna yang diambil itu bukanlah rekaan, sebaliknya ia meniru warna alam yang telah sedia dijadikan Allah s.w.t. Kita hanya memindahkan visual warna ke atas lembaran sahaja. Justeru, amat logik mushaf dihiasi warna, kerana hiasannya diambil daripada bunga-bungaan yang dijadikan beraneka warna. Namun, ia tidak dibuat secara naturalistik supaya beradab kepada Pencipta dan tidak dilihat seperti cubaan menyaingi ciptaan-Nya yang sebenar. Inilah jiwa dan adab di sebalik seniman yang beriman dan mentauhidkan Allah s.w.t.

Allah Maha Indah, Dia suka kepada yang indah. Sesuatu keindahan memberi fahaman kepada kita tentang salah satu sifat Allah s.w.t., Yang Indah. Di antara medium yang menerbitkan keindahan itu ialah warna. Warna bersifat neutral. Namun penggunaannya harus kena pada tempatnya dan mestilah benar. Bumi ini adalah lambang yang membawa kepada satu tahap pengertian. Warna-warna di alam ini juga suatu lambang.

Penggunaan warna hijau menggambarkan satu perlambangan yang bersih, baru dan segar. Bumi ini dipenuhi kehijauan. Daun, sayuran dan pelbagai tumbuhan kebanyakannya mempunyai pigmen hijau. Di dalam al-Quran juga menyatakan syurga dan kehijauan di dalamnya. Firman Allah s.w.t. bermaksud: Kelihatan syurga itu hijau tua warnanya. (Ar-Rahman 55:64). Perumpamaan di dunia, warna hijau dianggap positif. Manusia Muslim mengambilnya sebagai simbol kepada keindahan, supaya ingat dan tidak lupa kepada keindahan besar di akhirat. Tetapi ini tidak bermaksud Islam hanya menganjurkan warna hijau. Sekali lagi warna adalah neutral. Mengapa seorang Muslim jarang menggunakan lambang warna api, merah mungkin boleh kita fahami. Manusia Muslim berfikiran positif yang sentiasa ingin menjadi manusia yang baik dan memperoleh kebaikan sebenar, iaitu syurga. Dalam memilih lambang ia akan memilih yang positif. Islam sama sekali tidak mengharamkan penggunaan warna lain. Putih misalnya menjadi lambang kepada kesucian. Sebagai contoh, Malaikat Jibril berjumpa dengan Nabi s.a.w. berpakaian putih rapi dan ia dilihat oleh sahabat. Tidak timbul di sini persoalan warna yang boleh dan tidak boleh kerana Nabi Muhammad s.a.w. sendiri menggunakan pakaian yang ada warna, walaupun dalam banyak keadaan baginda s.a.w. gemar memakai warna putih. Warna amat perlu untuk mencapai tahap keindahan. Seni Islam mengutamakan aspek keindahan. Perkara ini jelas terlihat dalam hasil seni umat Islam yang berwarna warni tetapi harmoni. Tidak salah jika dikatakan corak yang digunakan untuk kehidupan seharian seperti corak dan warna pada permaidani, tenunan, songket, pakaian, perhiasan dan peralatan turut diterapkan dalam pembinaan zukhruf dan warna dalam penyediaan mushaf al-Quran. Justeru, dalam penyediaan manuskrip al-Quran beriluminasi penuh, Black & Brown menggunakan pendekatan ini.

Pemilihan untuk menggunakan atau tidak sesuatu warna dibuat berdasarkan pilihan, bukan soal pengharaman. Warna merah sebagai contoh dijauhi bukan kerana diharamkan tetapi kerana seniman memilih menggunakan warna lain. Setiap satu warna ada peranannya. Kebanyakan muzahhib tidak menggunakan warna merah yang kelihatan garang jika memenuhi ruang lembaran. Ia juga dikaitkan dengan ritual pengorbanan dalam animisme. Di dalam beberapa mushaf, merah digunakan pada beberapa tempat, termasuk kepada nama-nama Allah s.w.t. tetapi sebagai pilihan warna supaya kontras dan ada kelainannya.

Warna memainkan peranan yang amat kuat dalam memberi karakter dan identiti sesuatu perkara. Warna di dalam mushaf selain melambangkan alam, ia juga mencerminkan identiti warna bagi sesuatu bangsa, adat dan budaya. Merah banyak digunakan oleh masyarakat Cina. Pengaruh ini boleh dilihat pada binaan masjid lama di Guangzhou dan lain-lain yang berusia ratusan tahun. Mushaf lama negeri China mengekalkan warna hitam untuk huruf-hurufnya. Pigmen warna pada mushaf juga menjadi rekod yang menyimpan latar belakang sosio budaya sesebuah bangsa. Seorang `pandai mushaf' dapat mengetahui latar masa, negara dan zaman pemerintahan mana dengan sedikit penelitian sahaja. Pengetahuan ini tidak mungkin diperoleh melainkan setelah mengkaji manuskrip al-Quran itu sendiri.

Komponen warna mushaf al-Quran di Asia Barat tidak begitu berbeza dengan jubin pada dinding mereka. Jika dinding diterap dengan pelbagai warna, maka begitulah juga penggunaan warna pada perkara yang lebih kudus. Di sini kita mengenengahkan aspek persamaan, bukan soal mana yang lebih dahulu dibangunkan,

mushafkah atau bangunan.

Warna biru amat banyak digunakan di Asia Barat. Mungkin sesetengahnya dipengaruhi kepercayaan biru sebagai penghindar keburukan, namun yang jelas ia digunakan untuk melambangkan langit biru. Langit membawa ingatan kepada penurunan wahyu Allah s.w.t. dari Lauh Mahfuz, ke langit dunia dan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Namun ini tidak bermakna keseluruhan mushaf mesti berwarna biru. Mushaf di Nusantara lebih banyak menggunakan warna yang lebih sesuai dengan alam mereka. Indonesia dari Aceh ke Cirebon lebih banyak menggunakan warna yang bersifat `tanah' seperti perang, kelabu, merah dan lain-lain yang mendekati unsur geografi daripada perlambangan syurgawi. Mushaf Tanah Melayu menggunakan pelbagai warna daripada pigmen primer atau pun tertiari (komponen warna daripada gabungan warna primer), sesuai dengan alam kita yang kaya dengan warna daripada mineral, kehidupan, laut, di mana-mana sahaja.

Emas adalah bahan galian. Walaupun begitu memang terdapat warna emas. Emas atau warna emas digunakan untuk memperkayakan lagi warna mushaf. Emas digunakan dalam zukhruf dan kadangkala pada tulisan. Emas tidak digunakan sebagai warna, tetapi untuk mengangkat karya ke tahap yang tinggi kerana ia berkaitan dengan nilai ketinggian yang dilambangkan dengan emas.

Kelainan antara satu bangsa de-

ngan yang lain adalah lumrah alam. Bukankah perbezaan warna pada kulit manusia adalah suatu keistimewaan dan satu lambang untuk mengenal sesuatu bangsa? Kepelbagaian adalah satu fitrah ciptaan yang tidak boleh dinafikan. Manusia perlu belajar menghormati perbezaan, dan melihat dari aspek yang positif. Impaknya amat besar kepada keharmonian hidup sesama manusia. Di sini terserlah keindahan ajaran al-Quran yang me-

nyamaratakan manusia tanpa perbezaan kasta dan warna kulit. Maka umat yang berpegang kepada al-Quran adalah lebih utama untuk menghayati nilai murni ini. Hanya Allah s.w.t. yang lebih mengetahui kelebihan seseorang daripada yang lain.

Warna itu fitrah alam. Ia menjadi identiti yang mempereratkan hubu-

ngan antara manusia. Perjalanan hidup manusia adalah warna-warna pengalaman yang perlu dilaluinya. Warna mengajar kita agar harmoni, merapati dan menyerlahkan keindahan dalam usaha menuju keredhaan Tuhan yang abadi. Warna pada mushaf mempunyai makna pada diri manusia andainya ia mengerti. Black & Brown mengetengahkan isu ini agar kita menyedari bahawa setiap satu di dunia adalah fenomena. Dan inilah peluang kita untuk mempelajari supaya melihat keajaiban-keajaiban ini, sebelum kita dijemput berhijrah ke pangkuan Ilahi.

* Artikel di atas adalah hak intelektual Black & Brown Resources Sdn.Bhd. Ia sebuah syarikat bumiputera yang berpengalaman dalam seni Islam, penerbitan dan pengiklanan selama 16 tahun dan pembinaan manuskrip al-Quran beriluminasi penuh selama 11 tahun. Untuk makluman lanjut sila layari laman web berikut.

http://www.blackbrown.com.my

E mel: sisipanseni@blackbrown.com.my Tel: 03-6156 5660 Faks: 03-6156 5661

My Headlines