24.4.17

Kartini dan Aisyah Radhiallahu’anha

Mungkin Ibu Kartini -semoga Allah merahmati beliau- jadi wanita orang paling dicintai di hari ini, namun siapa yang lebih mulia dari wanita yang paling dicintai Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam?

أيُّ الناسِ أحَبُّ إليك ؟ قال : عائشةُ

“Rasulullah ditanya: siapa manusia yang paling engkau cintai? beliau menjawab: ‘Aisyah” (HR. Al Bukhari 4358, Muslim 2384)

Mungkin Ibu Kartini dianggap paling berjasa terhadap pendidikan wanita di negeri ini, namun siapa yang lebih berjasa dibanding wanita yang paling ‘alimah yang menyampaikan banyak ilmu-ilmu dari Rasulullah sehingga akhirnya (dengan hidayah dari Allah) bisa sampai kepada kita hari ini?

Atha’ mengatakan:

كانت عائشة أفقه النساء وأحسن الناس ، وأعلم الناس رأيا في العامة

“‘Aisyah adalah wanita yang paling faqihah (berilmu) dan manusia yang paling baik, dan yang paling baik pendapatnya secara umum”

Imam Az Zuhri mengatakan:

لو جمع علم عائشة إلى علم جميع النساء لكان علم عائشة أفضل

“Andaikan dikumpulkan semua ilmu ‘Aisyah dengan ilmu seluruh para wanita maka ilmu ‘Aisyah lebih utama”


[Terinspirasi dari: alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=2&View=Page&PageNo=1&PageID=11781 ]


Oleh : Al-Ustâdz Yulian Purnama

Sumber: kangaswad.wordpress.com

Dua persyaratan utama ibadah

Ibadah yang kita lakukan tidaklah cukup dengan bermodal semangat belaka ataukah dibangun dengan sangkaan baik kita.

Diterimanya ibadah seorang hamba di sisi Allah Tabaraka Wa Ta'ala ketika telah memenuhi dua persyaratan utama :

1. Ikhlas semata-mata karena Allah Ta'ala bukan karena riya atau ingin mendapatkan sanjungan manusia.

2. Sesuai dengan sunnah dan amalan yang di contohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Bagaimanapun sangkaan baik kita terhadap amalan yang kita lakukan,akan tetapi tatkala amalan tersebut tidak sesuai dengan tuntunan dan contoh dari nabi_Shalallahu 'alaihi wa sallam, bukannya pahala yang diraih melainkan adzab yang akan dipetik.

Simak kisah indah dari Al-Imam Sa'id ibnul musayyab rahimahullah,
berikut ini :

Berkata Asy-Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah :

 روى البيهقي بسند صحيح،
عن سعيد بن المسيب رحمه الله

 أنه رأى رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين،
يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه،،،

فقال : يا أبا محمد !
أيعذبني الله على الصلاة ؟!!!

قال : لا، ولكن يعذبك على خلاف السنة.


وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب رحمه الله تعالى
وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم أنها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم،

ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة !!! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك .

Al-Imam Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shohih sebuah atsar dari Sa'id Ibnul Musayyab Rahimahullah,

Suatu ketika Sa'id Ibnul Musayyab melihat seorang lelaki yang melakukan sholat sunnah setelah terbitnya fajar subuh lebih dari dua raka'at.

Melihat kejadian ini Sa'id Ibnul Musayyab pun melarang lelaki tersebut.

Berkata sang lelaki :
Wahai abu muhammad !!!
Apakah Allah akan mengadzabku disebabkan sholat yang aku kerjakan ???,

Maka abu muhammad sa'id ibnul musayyab pun menjawab :
Tidak,
Akan tetapi Allah Ta'ala mengadzabmu disebabkan engkau menyelisihi sunnah.


Dan ucapan ini merupakan jawaban indah dari Sa'id ibnul Musayyab Rahimahullah Ta'ala

Yang juga merupakan senjata yang ampuh untuk membungkam orang-orang yang mengamalkan ibadah yang tidak ada tuntunannya, yang menganggap baik kebanyakan amalan tersebut, yang mereka lakukan dengan berkedok " melakukan dzikir atau sholat "
kemudian mereka pun menyanggah ahlus sunnah yang selalu mengingkari perbuatan mereka.

Mereka pun tidak segan-segan menuduh ahlus sunnah yang senantiasa mengingkari amalan dzikir dan sholat yang mereka perbuat !!!

Dalam kenyataannya,
Tidaklah ahlus sunnah mengingkari amalan yang mereka lakukan melainkan disebabkan penyelisihan mereka terhadap sunnah yang dikemas dalam bentuk dzikir, sholat dan bentuk amalan lainnya.

📚Lihat : Irwau Al-Gholil : 2/236.

Wallahu a'lam.

Banda Aceh

✏ Al-Ustâdz Abu 'abdillah Sahal.
Radio Syiar Tauhid Aceh

Perbezaan antara seorang Muslim sebenar dengan muslim pelampau

1. Muslim sebenar sibuk menjaga imannya, Manakala Muslim pelampau asyik menjaga Iman orang lain.

2. Muslim sebenar berusaha membawa dirinya dan orang lain untuk masuk syurga, Manakala muslim pelampau asyik menerakakan orang lain.

3. Muslim sebenar sentiasa memaafkan atau melihat kesalahan atau kesilapan orang lain dengan hati yang terbuka, Manakala muslim pelampau sentiasa mencari salah orang lain agar dia dapat mengkritik untuk memperlihatkan kepada dunia bahawa dia Betul dan orang lain Salah atau bodoh.

PERHATIAN!
Tulisan ini berasal dari kiriman WahtsApp beruapa pandangan peribadi, tiada sumber rujukan.


23.4.17

R A H S I A S U J U D K E T I K A S O L A T

Sujud melibatkan 5 anggota badan yang bertumpu pada bumi, iaitu:

 - dahi
 - hidung
 - kedua telapak tangan
 - lutut
 - kedua hujung kaki (jari).

Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah SWT  dan meminta segala macam permintaan kepada Allah swt.

Sekaligus, mengikis sifat tercela seperti sombong, riya', ujub,  takabur dll.

Dr Fidelma O'Leary, Phd Neuroscience dari St Edward's University, telah menjadi mu'allaf, karena mendapati fakta tentang manfaat sujud bagi kesehatan.

Dalam kajiannya ditemukan bahwa
ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yg tidak dimasuki darah dan urat ini hanya dimasuki darah ketika manusia bersujud.

Tetapi urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja.
Iaitu pada waktu-waktu solat yang telah ditetapkan (subuh, zuhur, asar, maghrib dan Isya').

SubhanAllah...

Jadi, siapa yang tidak solat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal.

Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat yg tidak solat saat ini.

Karena letak otak di atas jantung, maka kata Prof Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia,
maka dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah saw, supaya kita sujud berlama-lama pada raka'at terakhir.

Manfaat sujud berlama-lama ini adalah untuk:

1. Menolak pening

2. Jauhi migrain

3.  Segarkan otak

4.  Tajamkan akal pikiran (peka)

5.  Legakan sistem pernafasan

6.  Betulkan pundi peranakan yang jatuh

7. Betulkan dan kukuhkan kedudukan bayi dalam kandungan

8. Elak kandungan songsang dll.

Dan yang menakjubkan, jika kita memperhatikan, bentuk saraf yang ada dalam otak kita berbentuk seperti orang yang sedang sujud.

PERHATIAN!
Tulisan ini berasal dari kiriman WahtsApp, tiada sumber rujukan.


Renungan Hari Ini

PERHATIAN!
Tulisan ini berasal dari kiriman WahtsApp, tiada sumber rujukan.


Pertandingan bola : 90 menit
Film serial : 60 menit
Film : 130 menit
Shalat : 5 menit

Neraka Jahannam : sepanjang hidup
Surga : sepanjang hidup

Mari kita merenung
Whatsapp : 300 kawan
Kontak : 80 kawan
Kawan dikampung : 50 org
Kawan dimasa sulit : 1
Kawan di jenazahmu : keluargamu
Kawan di kubur : kau sendirian

Jangan merasa aneh, inilah kehidupan
Hakikatnya : tak ada yang memberimu manfaat selain sholatmu

Jika kau mendapati debu di mushafmu ( Kitab Alqur'an )
Maka Tangisilah dirimu sendiri !

Barangsiapa yg tdk membaca Al-Quran selama 3 hari tanpa ada udzur maka ia dinamakan Hajir / seorang yang meninggalkan Al-Quran

Ulasan : aku tidak memaksamu untuk menyebar luaskan tulisan ini
Akan tetapi sebagai kepatuhan pada Firman Allah Ta'ala :
"Peringatkan lah karena peringatan akan memberikan manfaat pada kaum mukminin"

Alam yang aneh,
Jenazah disusul dengan jenazah . . kematian disusul dengan kematian berikutnya.
Berita tentang kematian terus bermunculan ada yg mati karena kecelakaan ada krn sakit ada yang tiba2 mati tanpa diketahui sababnya semuanya tinggalkan dunia ini dan mereka semua kami kuburkan dan itu pasti.

Hariku dan harimu pasti akan tiba persiapkanlah bekal untuk perjalanan yang tak dapat kembali.

Wahai orang yang menunda Taubat dengan alasan karena masih muda
Maaf.. Kuburan bukanlah tempat untuk orang dewasa saja
( kuburan tempat manusia segala usia )

Sungguh Dunia itu hanya 3 hari :
Hari Kemarin : kita hidup disitu, dan tidak akan kembali lagi
Hari ini : kita jalani namun tak berlangsung lama
Besok: kita tidak akan tahu apa yg akan terjadi
Maka saling memaafkan dan sedekahlah
Karena: aku engkau dan mereka
-- akan pergi -- meninggalkan gemerlapnya dunia selamanya ...

Ya Allah kami memohon pada Mu husnulkhatimah dan beruntung dengan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka aamiin ya robbal alamiin

Saudara ku yang mulia:
Barangsiapa yang hidup dalam suatu kebiasaan maka ia akan mati dengan kebiasaan itu.

Dan barangsiapa yang mati dalam suatu keadaan maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut

Jika kau sudah membaca tulisan ini kau sudah mendapatkan pahala nya, namun bila kau menyebarkannya dan orang lain mendapakan manfaat juga maka akan dilipat gandakan pahala mu Insya Allah.

(Ust. Bachtiar nasir)

DETIK - DETIK WAFATNYA UMMUL MUKMININ KHADIJJAH R.HA

PERHATIAN!
Tulisan ini berasal dari kiriman WahtsApp, tiada sumber rujukan.

Dalam kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani disebutkan, istri Rasulullah Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW, “Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”
Rasulullah menjawab, “Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung da’wah Islam sepenuhnya”.

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik, “Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku”
Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit membawa lima kain kafan. Rasulullah bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Khadijah, engkau ya Rasulullah, Fatimah, Ali dan Hasan.”, jawab Jibril.
Jibril berhenti dan menangis. Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan.”

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Khadijah istrku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kamu hibahkan untuk Islam. Kaun muslimin ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini darimu. Permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”
“Ya Allah, ya Ilahi rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

Tiba-tiba Ali berkata, “Aku, Ya Rasulullah!”

Peristiwa wafatnya Khadijah itu sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedih perasaan Rasulullah ditinggal dua orang sangat dicintai dan mendukung perjuangannya menegakkan Islam.

Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijatal Kubra, al fatihah …..

Dalam kisah lain diceritakan:

Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada suaminya, kepada Nabi s.a.w untuk perjuangan agama ini. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat tidak ada kafan yang digunakan untuk menutupi jasad Khadijah bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Dikisahkan, suatu hari Nabi s.a.w pulang dari pada dakwah islam, ketika pulang masuk ke dalam rumah, biasa Khadijah menyambut, berdiri di depan pintu, ketika Khadijah hendak berdiri menyambut Nabi s.a.w berkata, “wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu”. Ketika itu Khadijah sedang menyusukan Fatimah yang ketika itu masi bayi.

Sahabat yang di muliakan Allah Ta’ala, karena begitu besar pengorbanan Nabi dan Khadijah untuk agama ini, untuk bagaimana hari ini kita mengenal Allah Ta’ala, untuk bagaimana hari ini kita mengenal Sholat.

Sahabat yang di muliakan Allah Ta’ala, seluruh kekayaan mereka telah habis sehingga ketika Fatimah menyusu bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang keluar yang masuk dalam mulut Fatimah RA. Maka Nabi s.a.w telah mengambil ini Fatimah dan diletakkan di tempat tidur. Gantilah Nabi s.a.w berbaring di pangkuan Khadijah yang lelah seusai berjumpa dengan manusia dalam berdakwah dengan menghadapi caci maki , fitnah manusia ketika itu. Nabi tertidur, ketika itulah Khadijah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi s.a.w.. tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Nabi s.a.w. Nabi pun terjaga..
“wahai Khadijah. Kenapa engkau menangis?”. “adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?”. “Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan..”. “..tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauhi dirimu”. “seluruh kekayaanmu habis”. “Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad..?”.

Khadijahpun berkata “Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah”. “Bukan itu yang kutangiskan”. “Dahulu aku memiliki kemuliaan..”. “.. kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan RosulNya”. “Dahulu aku memiliki kebangsawanan..”. “.. kebangsawanan itu aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”. “Dahulu aku memiliki harta kekayaan..”. “..seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”. “wahai Rosululloh”. “sekarang aku tak punya apa-apa lagi”. “Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini”. “wahai Rosululloh.. sekiranya aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai”. “sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan”. “engkau hendak menyebarangi sungai dan engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan”. “.. maka engkau galilah lubang-lubang kuburku, kau galilah kuburku, engkau ambilah tulang belulangku”. “kau jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu untuk jumpa dengan manusia”. “Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah”. “Ingatkan mereka kepada yang hak”. “ajak mereka kepada Islam, wahai Rosululloh”.

Sahabat yang dimuliakan allah Ta’ala. Seorang Nabi yang agung, seorang istri yang agung , suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini.

Allahuakbar..

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.Al Fatihah untuk Sayyidatina Khadijah ...... Semoga kita semua ada di hati beliau di cintai beliau sehingga Rasulullah pun mencintai kita aamiin Ya Robb...

20.2.11

'Pluralisme agama' keliru lagi mengelirukan

Oleh Mohd. Ayop Abd Razid
Sebelum kita memahami apa yang dimaksudkan dengan pluralisme agama adalah baik kita memahami dua perkataan yang sering disalah faham dalam konteks memahami 'pluralism agama'. Dua perkataan yang saya maksudkan itu ialah plurality(pluralitas) dan 'pluralism'.

Perkara ini dijelaskan oleh Profesor Datuk Dr. Datuk Osman Bakar dalam ucaptamanya di Wacana Pemikiran dan Pembinaan Ummah yang bertemakan "Membanteras Gerakan Pluralisme Agama dan Pemurtadan Ummah".

Menurutnya, plurality adalah sifat sesuatu keadaan yang di dalam bahasa Melayu disebut 'kepelbagaian' atau 'kemajmukan'. Misalnya masyarakat kita adalah masyarakat yang bersifat majmuk dengan pelbagai etnik, kaum, agama, bahasa dan anutan agama.

Konsep kemajmukan ini disebut di dalam al-Quran sebagai masyarakat manusia (bani Adam) yang diciptakan dari pelbagai warna kulit dan keturunan dengan tujuan untuk saling kenal mengenali (al-Hujuraat:13). Sebaliknya apabila disebut pluralism maka ia sudah merupakan satu fahaman atau ideologi tersendiri yang memiliki doktrin-doktrin yang tertentu.

Justeru, apabila disebut pluralisme agama di dalam rencana ini maka ia merujuk kepada satu fahaman atau ideologi yang memiliki doktrin-doktrin tertentu. Apa maksudnya pluralisme agama?

Pluralisme agama adalah fahaman yang mengajar semua agama adalah sama kerana menganggap setiap agama bersifat relatif dan nisbi kebenarannya.

Mereka mendukung kesamarataan agama yang di dalam bahasa Inggeris disebut Transcendent Unity of Religions.

Fahaman ini telah dikembangkan oleh sekelompok pemikir Kristian seperti Raimundo Panikkar (Pastor Khatolik kelahiran Sepanyol), Wilfred Cantwell Smith (pengasas Institute of Islamic Studies di McGill University Canada), Frithof Schuon (bekas Kristian yang keluar masuk pelbagai agama) dan John Hick (Profesor teologi di Claremont School California AS).

Peter Byrne, Profesor di King's College London menyebut bahawa pluralisme agama adalah adunan tiga tesis iaitu: semua agama besar di dunia adalah sama; semua agama itu menawarkan jalan keselamatan, dan semua agama terbuka untuk dikritik dan ditinjau kembali.

John Hick menganggap bahawa agama-agama besar dunia adalah satu, iaitu "Hakikat Ultimate yang Tunggal" (The Ultimate Reality) dan Tuhan mempunyai pelbagai nama.

Doktrin beliau itu mencerminkan bahawa kewujudan agama yang beragam pada hakikatnya adalah memiliki manhaj yang sama dan autentik untuk membawa manusia ke jalan keselamatan (salvation).

Justeru, semua agama yang ada adalah authentic manifestations of the Real, dan tidak ada satu agama pun yang berhak mendakwa agamanya satu-satu yang benar dan satu-satunya jalan menuju keselamatan.

Implikasi dari fahaman ini ialah setiap agama tidak boleh mendakwa bahawa agamanya sahaja yang benar secara mutlak kerana menurut mereka setiap agama berkongsi sebahagian kebenaran (partial truth). Bagi mereka kebenaran yang mutlak hanya ada pada 'Hakikat Ultimate Reality'.

Pendukung fahaman ini mendakwa bahawa pluralisme agama adalah jalan penyelesaian terhadap konflik antara agama.'

Justeru, tokoh seperti Paul Knitter, pakar teologi Kristian Pluralis menyebut, pluralisme berkeinginan untuk melahirkan dialog yang jujur dan terbuka sehingga seluruh pemeluk agama dapat bekerjasama memperbaiki jalan kehidupan manusia.

Di Indonesia, wujud kelompok 'Islam Liberal' yang menerima fahaman 'pluralisme agama' ini. Ia telah berkembang subur melalui pelbagai medium seperti wacana, seminar, dialog, penerbitan buku dan jurnal.

Malah, ada usaha untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam ke arah Pendidikan Islam Pluralis.

Apakah pendirian yang harus dipegang oleh kita? Ustaz Muhammad Uthman El-Muhammady dalam wacana tersebut mengingat umat Islam supaya berpegang kepada wacana Sunni (Ahlissunnah) yang merupakan aliran arus perdana yang berpegang kepada al-Quran, Hadis dan Ijmak.

Menurutnya pluralisme agama terletak atas sangkaan pandangan yang bercanggah dengan Quran, Sunah dan Ijmak.

Al-Quran datang sebagai petunjuk kepada manusia dan al-Quran sendiri menegaskan bahawa agama yang diterima di sisi Allah adalah al-Islam, iaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada paksaan ke atas manusia kufur untuk memeluk Islam.

Apa yang penting dalam konteks hidup bermasyarakat kita perlu menghormati nilai-nilai yang baik yang ada pada sistem kepercayaan masing-masing sebagaimana Muslim dan Yahudi serta Kristian hidup secara harmoni dalam zaman kemuncak Islam di Andalusia.

Penulis ialah Ketua Unit Penerbitan di Jabatan Hal Ehwal Khas, Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan. - ARKIB UTUSAN: 17/12/2010
Pautan: Syafrein.com, Takaful Keluarga, Dompas.Net, Guided-Info.com, Munakahat, Riau.cc, NikahKahwin.Co.Cc, Make Money So EZ

12.8.07

Wahai dunia! Islam bukan agama pengganas

Oleh: DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN

HAMPIR setiap minggu saya menerima kunjungan dari berbagai-bagai pihak yang ‘berjenama’ hebat dari serata pelosok dan sebahagian mereka itu bukan muslim. Sebahagian mereka pembaca setia tulisan saya. Mereka bertanya pendapat saya dalam berbagai-bagai isu. Antara yang menjadi fokus mereka yang bukan muslim adalah isu keganasan atau terrorisme.

Hasil didikan media antarabangsa, mereka seakan melihat ada kaitan rapat antara Islam dan keganasan. Mereka bertanya mengapakah Islam memperuntukkan bab yang dinamakan jihad yang akhirnya menimbulkan suasana keganasan di dunia ini?

Saya bertanya kepada mereka; sejak bila anda rasa isu keganasan ini dikaitkan dengan Islam? Mereka menjawab; sejak beberapa tahun yang akhir ini, khusus setelah peristiwa 11 September. Saya bertanya mereka; Nabi Muhammad s.a.w. dibangkitkan sejak 1,400 yang lepas dan ajaran baginda tersebar hampir ke seluruh alam serta pernah membina tamadun yang amat agung. Mengapakah hari ini baru anda mendengar tentang keganasan dan Islam?

Kemudian, apa takrif keganasan pada sisi anda sehingga media menyatakan rakyat Palestin pengganas, sedangkan Israel yang membunuh wanita dan kanak-kanak mereka saban hari tidak dilabel pengganas?

Atas kaedah apakah anda menyatakan rakyat Iraq yang membunuh tentera Amerika itu pengganas, sedangkan Amerika yang mengebom dan menceroboh negara mereka, merogol dan membunuh kaum keluarga mereka tidak disenaraikan dalam kandang pengganas?

Atas pentakrifan apakah tindakan menawan tebusan yang dilakukan oleh beberapa gerombolan orang Islam dianggap jenayah tidak berperikemanusiaan, sementara tindakan Amerika menahan begitu ramai orang Islam tanpa bukti tidak diuar-uarkan sebagai keganasan kejam?

Jika dihitung jumlah orang Barat yang terkorban disebabkan keganasan puak yang menamakan diri sebagai muslim dibandingkan jumlah umat Islam yang dibunuh oleh senjata-senjata canggih Amerika dan sekutunya; manakah yang lebih ramai?

Atas dasar apakah anda memberi imej Islam pengganas kerana tindakan beberapa kumpulan yang dikaitkan dengan Islam, tetapi anda tidak melihat imej agama Kristian atau Yahudi sebagai pengganas sedangkan tindakan mereka dilakukan oleh penganut agama-agama tersebut yang bersifat kerajaan dan pemerintahan yang diiktiraf oleh mereka?

Akhirnya saya katakan; sebenarnya, tiada siapa pun yang bersetuju dengan keganasan, cumanya media Barat dalam banyak hal bersikap berat sebelah menakrifkan keganasan dan siapakah pengganas?

Sejak dahulu Islam menyebarkan keadilan dan kesaksamaan di kalangan manusia. Lihat sahaja, begitu ramai golongan minoriti bukan Islam dapat hidup di tengah- tengah masyarakat Islam di serata dunia. Lihat di negara kita, Mesir, Jordan, Indonesia dan negara-negara lain. Walaupun barangkali ada beberapa kekurangan tertentu, namun mereka tidak diseksa atau ditumpahkan darah secara kejam.

Namun keadaan sebaliknya tidak berlaku terhadap minoriti umat Islam di kebanyakan negara. Lihat nasib umat Islam di Bosnia, Burma, Rusia dan beberapa negara lain. Bahkan dalam masyarakat Melayu, orang bukan Islam boleh berniaga dan maju di tengah-tengah kampung Melayu Muslim, namun sukar ditemui keadaan sebaliknya.

Mesej saya adalah keganasan atau menumpahkan darah manusia berlainan agama bukan tabiat orang Islam, sudah pasti ia bukan ajaran Islam. Bagaimana mungkin ajaran Islam hendak dikaitkan dengan keganasan, sedangkan jika dilihat peraturan peperangan dalam Islam itu begitu ketat.

Sebelum Perjanjian Geneva wujud lagi, Islam 1,400 tahun yang lalu telah pun meletakkan pelbagai disiplin dan peraturan dalam peperangan. Jika Perjanjian Geneva tidak wujud pun, umat Islam tetap wajib mematuhi peraturan-peraturan perang. Bukan sekadar menjaga nama baik kerajaan, bahkan itu adalah arahan agama.

Peperangan bukan untuk membanyakkan penumpahan darah, sebaliknya untuk memelihara kebenaran dan keadilan. Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 190: (maksudnya) dan perangilah di jalan allah orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya allah tidak menyukai mereka yang melampaui batas.

Dalam hadis yang diriwayat oleh al-Bukhari dan Muslim, baginda Nabi menyebut: Wahai manusia! Jangan kamu bercita-cita bertembung dengan musuh, mintalah daripada Allah keselamatan. Namun jika kamu bertembung dengan mereka juga, kamu hendaklah sabar (tetap jangan berganjak).

Untuk itu Islam menetapkan, pembunuhan hanya di medan perang. Hanya perangi mereka yang terlibat dengan peperangan. Musuh yang tidak menyertai peperangan, tidak diperangi atau dibunuh.

Supaya penekanan disiplin itu lebih dipatuhi, para sarjana Islam menyebut secara lebih terperinci sebagai fokus agar golongan-golongan berikut tidak ditumpah darah mereka:

Pertama: Wanita yang tidak berperang dan kanak-kanak. Dalam hadis daripada Ibn Umar, katanya: “Sesungguhnya seorang wanita didapati terbunuh dalam satu peperangan (yang disertai Nabi) maka baginda pun melarang membunuh wanita dan kanak-kanak.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kedua: Orang tua dan orang uzur. Mereka tidak dibunuh, melainkan jika dikhuatiri tindakan dan perancangan mereka dalam peperangan. Ini dapat dikiaskan dengan wanita yang tidak membantu peperangan.

Ketiga: Mereka yang beribadat di rumah- rumah ibadat. Dalilnya ialah riwayat Ibn ‘Abbas, katanya: Apabila Rasulullah mengirimkan pasukan tentera maka baginda bersabda: Keluarlah kamu (medan jihad) dengan nama Allah, perangilah di jalan Allah sesiapa yang kufur dengan Allah. Jangan kamu melanggar perjanjian, jangan kamu mengkhianati harta rampasan perang, jangan kamu rosakkan mayat, jangan kamu bunuh kanak-kanak dan ahli-ahli rumah ibadat. (Riwayat Ahmad, kata Ahmad Muhammad Syakir: “Sanad hadis ini hasan.”)

Kata al-Syaukani (wafat 1250H): “Pada hadis ini dalil bahawa tidak boleh membunuh sesiapa daripada golongan bukan muslim yang hanya beribadat seperti paderi kerana mereka tidak memudaratkan kaum muslimin.” (:Al-Syaukani, Nail al-Autar, jld 8, m.s. 74, Beirut: Dar al-Jil)

Keempat: Para pekerja dan petani. Jumhur ulama menyatakan mereka tidak dibunuh. Dalilnya hadis Hanzalah al-Katib, katanya: Kami berperang bersama dengan Rasulullah, lalu kami melintasi seorang wanita yang dibunuh. Ketika itu orang ramai berkumpul padanya, lantas mereka memberi ruang kepada baginda (untuk melihatnya). Baginda bersabda: Dia ini (wanita tersebut) tidak turut berperang. Kemudian baginda mengarahkan seorang lelaki sambil bersabda: Pergilah kepada Khalid ibn al-Walid, katakan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkannya dengan sabdanya: Jangan kamu bunuh kanak-kanak (dalam sebahagian riwayat: wanita) dan ‘asif (pengambil upah). (Riwayat Abu Daud, Ibn Majah dan Ahmad. Al-Albani menilainya sebagai sahih (lihat: Al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, jld 2, m.s. 314, Riyadh: Maktabah al-Ma‘arf li al-Nasyr).

Pengambil upah ini ialah yang hanya bertugas menyediakan makanan, atau membersihkan kem tentera dan seumpamanya. Selagi mereka tidak terlibat di medan perang, maka mereka tidak dibunuh.

Kelima: Para perwakilan dan diplomat. Kata ‘Abdullah bin Mas‘ud: “Telah menjadi suatu sunah bahawa para perwakilan tidak dibunuh”. (Riwayat Abu Daud, Ahmad, al- Bazzar, Abu Ya‘la. Sanad-sanad mereka adalah hasan ( al-Hathaimiy, Majma’ al-Zawaid, jld 5, m.s. 314, Beirut: Dar al-Rayyan)

Setelah anda melihat ketatnya peraturan seperti ini, adakah mungkin anda menuduh Islam menggalakkan pengeboman di tempat awam? Jika tindakan itu dibuat di atas nama Islam, itu adalah pengkhianatan terhadap Islam. Setelah Islam mengharamkan tindakan ini, apakah wajar media Barat mengaitkannya dengan Islam, sedangkan pada masa sama mereka tidak mengaitkan tindakan zalim Amerika dengan Kristian, India dengan Hindu atau Israel dengan Yahudi? Walaupun teks pengharaman seperti Islam tidak jelas dalam agama lain.

Setelah faham hakikat Islam yang menentang keganasan melulu ini, Barat patut bertanya; jika benar ada orang Islam yang melakukannya, bererti mereka sudah tidak mampu mengawal diri dengan disiplin Islam, mengapa hal ini berlaku? Saya katakan sekali lagi, Islam tidak bertanggungjawab terhadap pembunuhan awam.

Apa yang berlaku ialah tindakan luar kawalan. Ini berlaku apabila emosi menguasai akal dan kefahaman salah menguasai tindakan. Tanpa boleh dinafikan, emosi yang berlebihan dan meluap-luap tanpa kawalan ini datang disebabkan sikap buruk dan ganas yang ditunjukkan oleh sesetengah kuasa Barat terhadap dunia Islam terutamanya di Iraq dan Palestin sekarang.

Kerana, seseorang yang biasanya berkelakuan baik, tiba-tiba menjadi ganas, kita patut bertanya sebabnya. Islam tidak seperti filem-filem Barat yang menghalalkan keganasan hero atas nama membalas dendam, namun jika dunia inginkan penyelesaian penyakit, kita mesti mengubati puncanya.

Kemudian mereka bertanya saya: kenapa perlu ada bab jihad dalam Islam? Ini boleh menyebabkan berlaku ketegangan antara agama. Saya katakan; jika anda melihat Islam sebagai agama yang hanya menguruskan masjid, maka tentulah persoalan jihad amat ganjil untuk dibincangkan. Namun Islam adalah agama yang lengkap menyentuh semua sistem kehidupan.

Mana mungkin sebagai agama yang lengkap dalam berbagai-bagai persoalan; ekonomi, pentadbiran, pendidikan dan sebagainya, tiba-tiba tidak membincangkan soal peperangan. Jika itu berlaku, menunjukkan tidak sempurnanya sistem Islam.

Dalam erti kata, Islam membiarkan keindahan sistem yang dibinanya dicerobohi atau dihancurkan.

Kita wajar tahu bahawa, peperangan wujud sepanjang sejarah manusia. Ini kerana apabila wujudnya kelompok yang suka bersikap ganas dan menindas pihak yang lain, atau gemar mengguna kekerasan sebagai penyelesaian maka peperangan pasti tercetus. Lantas pihak yang tertindas pun terheret ke kancah peperangan yang dipaksa.

Demi untuk mempertahankan diri mereka terpaksa mengharunginya jua, seperti berlaku di Iraq dan Palestin. Justeru, kita melihat setiap negara akan mewujudkan angkatan tenteranya. Itu adalah keperluan asasi. Kalaupun tidak untuk berperang dengan pihak yang lain, ia demi mempertahankan sempadan dan kedaulatannya.

Ini kerana sikap lunak dan berbaik dengan semua pihak tidak mampu menjamin sesebuah negara tidak diserang. Perasaan tamak dan rakus yang wujud pada negara lain akan mengancam sesebuah kerajaan sekalipun benteng diplomasi dibina. Untuk itu, maka setiap negara membuat latihan dan sistem ketenteraannya.

Jelas, bahawa membicarakan persoalan perang dan senjata, tidaklah semestinya menggambarkan sikap ganas atau keganasan. Sebaliknya ia tuntutan bermasyarakat. Bahkan peperangan membela kebenaran disetujui oleh fitrah manusia.

Sebab itu filem-filem peperangan yang menggambarkan kemenangan di pihak yang dianggap benar, disukai oleh masyarakat dunia. Maka Islam adalah agama yang syumul. Datang untuk menyelesaikan persoalan kehidupan manusia di semua peringkat. Adalah mustahil untuk Islam tidak membicarakan tajuk peperangan atau dinamakan – dari segi istilahnya – jihad qitali atau jihad peperangan.

Mengapa pula kerana adanya bab jihad dalam Islam maka agama ini dihukum pengganas, tetapi sistem ketenteraan yang diwujudkan oleh setiap negara terutamanya Barat, tidak dianggap sebagai pengganas? Atau mengapa tidak dihukum pengeluar filem Hollywood sebagai pengganas?

Saya ingin ingatkan, oleh kerana bab jihad ini secara jelas ada dalam al-Quran dan al-sunah, orang Islam tidak boleh menafikannya. Menafikan peperangan jihad bererti menafikan nas-nas Islam. Namun mereka mesti menjelaskan kepada dunia secara betul maksud jihad dalam Islam. Adakah mungkin Islam yang membincangkan persoalan kenegaraan tiba-tiba tidak menyebut bab ketenteraan?

Cuma yang berlaku hari ini, adanya segelintir orang Islam menyalahgunakan bab jihad peperangan ini atau melanggar disiplin yang ditetapkan oleh agama. Islam yang tulen membantah tindakan mereka sama sekali.

Namun, bagi negara-negara orang Islam yang diserang oleh kuasa imperialis, apakah dunia ingin mengatakan kepada umat Islam, awak semua hendaklah diam dan jangan mempertahankan diri kerana itu adalah jihad, dan jihad adalah keganasan? Inikah keadilan sejagat?

Bak kata orang Arab: “Dia pukul aku, dia pula yang menangis. Dia maki aku, dia pula yang mengadu.” [MM]

- DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN ialah Mufti Kerajaan Negeri Perlis.

E-mel: moasriza@yahoo.com

Layari http://drmaza.com/

24.4.07

Let us build your GDI Team for you


If you like GDI then you will love GDI Team
Builder.ws. It will build your team and earn you Instant and Residual
Income. Join Now.

==> http://dompas.net/recommends/gtb



21.7.06

Soal Jawab Umrah dan Haji: Lima syarat dikenakan dam bagi tamattu’

MENGAPA orang yang mengerjakan haji tamattu’ dikenakan dam?

Orang yang mengerjakan haji tamattu’ dikenakan dam kerana beliau mengerjakan umrah dan haji dalam bulan haji pada tahun sama. Dikatakan juga kerana ia bertamattu’ (bersedap-sedap dengan menanggalkan ihram selepas berihram) dalam bulan haji dan tidak keluar ke miqatnya atau ke suatu tempat yang jaraknya sekurang-kurangnya dua marhalah dari Tanah Haram itu untuk berniat ihram haji.

Apakah syarat dikenakan dam bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’?


Syarat seseorang dikenakan dam adalah seperti berikut:
# Jemaah bukan daripada penduduk Makkah
# Tinggal di tempat yang jauhnya dua marhalah atau lebih dari Tanah Haram.
# Mengerjakan haji dan umrah dalam bulan haji pada tahun yang sama.
# Tidak berniat ihram haji miqat bagi penduduk negerinya atau bagi penduduk dari arah mana dia datang masuk ke Tanah Haram untuk mengerjakan haji.
# Tidak berniat ihram haji dari tempat yang jaraknya dua marhalah atau lebih dari Tanah Haram.

Sesetengah orang berkata ada antara orang yang mengerjakan haji tamattu’ tidak dikenakan dam, adakah ini benar dan bagaimana?

Benar, ada di antara orang yang mengerjakan haji tamattu’ tidak dikenakan dam sekiranya ia mempunyai salah satu dari lima keadaan berikut:
# Dia adalah penduduk Tanah Haram.
# Dia tinggal di tempat yang jauhnya tidak sampai dua marhalah dari Tanah Haram (91 kilometer atau 56 batu).
# Dia keluar pada miqat untuk berniat ihram haji.
# Dia keluar kepada dua marhalah dari Tanah Haram atau lebih untuk berniat haji di sana, kemudian baru masuk ke Makkah untuk mengerjakan haji.
# Dia mengerjakan umrah bukan di dalam bulan haji.

Bilakah masa sesuai melaksanakan dam tamattu’?

Dam tamattu’ itu boleh dilaksanakan pada bila-bila masa selepas tahallul umrah. Yang afdalnya pada hari nahar (hari raya haji). Tidak harus dilakukan sebelum tahallul daripada umrah dan hendaklah penyembelihan itu dilakukan di Tanah Haram.

Mengapa orang yang mengerjakan haji qiran dikenakan dam?


Sebabnya ialah ia mendapat keuntungan dan kesenangan dari segi amalan. Haji dan umrah hanya dikerjakan dengan sekali serentak iaitu dengan tawaf yang satu, sa’ie yang satu, bercukur atau bergunting yang satu dan juga miqatnya pun satu.

Apakah pula syarat dikenakan dam bagi orang mengerjakan haji qiran.

Syarat-syaratnya seperti berikut:
# Ia bukan penduduk Tanah Haram
# Ia tinggal di tempat yang jaraknya dua marhalah atau lebih dari Tanah Haram
# Ia tidak kembali ke miqatnya atau ke tempat yang jaraknya dua marhalah atau lebih dari Tanah Haram kerana berniat ihram haji.

Apakah sebab-sebab bagi orang yang mengerjakan haji qiran tidak dikenakan dam?


Ada orang yang mengerjakan haji qiran tidak dikenakan dam jika ada salah satu dari keadaan seperti berikut:
# Dia adalah penduduk Tanah Haram
# Tempat tinggalnya tidak sampai dua marhalah dari Tanah Haram (91 kilometer atau 56 batu)
# Dia kembali ke miqatnya atau ke tempat yang jaraknya dua marhalah atau lebih dari Tanah Haram kerana berniat ihram haji (mereka yang memasukkan haji berserta umrahnya). [BH]

Bicara Haji: Wanita dalam edah patut dapat kebenaran suami tunaikan haji

Bersama Abu Hassan Wahab

Tempoh talak rajii’ atasi wasiat lakukan ibadat bila lelaki meninggal lebih awal

SYARAT wajib haji dan umrah adalah sama iaitu:
# Islam. Orang kafir dan orang yang murtad tidak wajib menunaikan ibadat haji.
# Baligh. Kanak-kanak yang belum baligh tidak wajib mengerjakannya. Sekiranya kanak-kanak pergi menunaikan haji, maka haji itu sah tetapi dikira sebagai haji sunat.
# Berakal. Orang gila atau akalnya tidak waras, tidak wajib menunaikan haji.
# Merdeka. Hamba sahaya tidak wajib menunaikan haji.
# Istito'ah. Istito'ah bermaksud berkemampuan untuk mengerjakan haji.

Syarat berkemampuan:

# Berkemampuan dengan sendiri

– Cukup perbelanjaan dan nafkah untuk dirinya pergi dan balik.

– Cukup keperluan nafkah asas, untuk orang di bawah tanggungannya.

– Ada kenderaan pergi dan balik.

– Aman perjalanan pergi dan balik contohnya tidak ada peperangan atau rompakan, musuh yang mengancam keselamatan diri atau harta, penyakit berjangkit yang membahayakan jiwa dan tubuh badan.

– Sihat tubuh badan.

– Berkesempatan masa untuk mengerjakan haji.

# Berkemampuan dengan pertolongan orang lain (haji badal)

– Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh seperti lumpuh yang dibuat haji badal untuknya, kemudian dia meninggal dunia, dia telah mendapat haji fardu. Sekiranya dengan izin Allah beliau sembuh seperti sedia kala, maka beliau wajib melaksanakan haji sekali lagi, maka haji itu dinamakan haji fardu. Adapun haji badal yang dibuat terdahulu bagi pihaknya, dikira sebagai haji sunat. Ibadat haji adalah sesuatu yang unik.

– Orang yang terlalu tua lagi uzur.

– Orang yang meninggal dunia dan ketika hidupnya berkemampuan untuk menunaikan haji. Wajib ke atas ahli warisnya atau orang yang menerima wasiatnya, melangsaikan hutang hajinya, dengan upah yang berpatutan atau secara sukarela (haji badal).

Syarat-syarat haji badal:

Orang yang hendak menunaikan haji bagi pihak orang lain disyaratkan:

# Sudah menunaikan haji dengan sempurna bagi pihak dirinya sendiri.
# Menunaikan haji hanya untuk seorang saja, pada satu musim haji.
# Dia hendaklah berihram sama ada di miqat sama jauh dengan miqat orang yang hendak dihajikan; di miqat yang ditentukan kepadanya dan sekiranya tidak ditentukan miqat baginya, maka diharuskan ia berihram dari mana-mana miqat yang dilaluinya.
# Orang yang hendak menunaikan haji badal mestilah seseorang yang baligh. Bagi wanita dua syarat tambahan dikenakan iaitu dengan izin suami atau wali dan hendaklah ditemani suami atau mahramnya (orang yang haram nikah dengannya) atau yang thiqat (perempuan yang dipercayai).

– Izin suami dan mahram adalah bergantung rapat dan saling memerlukan, kerana pada pandangan syarak, jika seseorang isteri diberi keizinan oleh suaminya tetapi dia tidak ditemani mahramnya, hukum hajinya adalah sah tetapi berdosa. Begitu juga sekiranya seseorang wanita itu ditemani oleh mahramnya tetapi tidak mendapat keizinan suaminya, hukum hajinya tetap sah tetapi berdosa.

– Sekiranya seseorang wanita telahpun berniat ihram sama ada haji atau umrah tanpa pengetahuan suaminya, si suami boleh dengan paksaan meminta isterinya menanggalkan ihramnya, sekalipun terpaksa melakukan Tahallul-Ihsar. Pada zahirnya seolah-olah tidak patut suaminya berbuat demikian, tetapi pada syarak diharuskan. Pada syarak, hak suami ke atas isterinya adalah pada bila-bila masa (A'lal Faur), sedangkan haji dan umrah boleh ditangguhkan (A'lat Tarakhi).

– Seorang wanita dalam tempoh talak rajii' juga, dikehendaki mendapat keizinan suaminya sebelum pergi menunaikan fardu haji, kerana suaminya pada bila-bila masa harus merujuk kembali kepada isteri dalam tempoh edahnya.

Bagaimana pula sekiranya si suami berwasiat kepada isterinya supaya pergi juga menunaikan fardu haji walaupun ditakdirkan meninggal dunia sebelum sempat menunaikan fardu haji bersama isterinya? Dengan perkataan lain, menunaikan haji dalam masa edah kematian suami, adakah diharuskan?

Dalam perkara lain, wasiat adalah tinggi dan wajib dipatuhi dan dilaksanakan, tetapi berhubung dengan menunaikan fardu haji dalam masa edah kematian suami, hukum hajinya sah tetapi berdosa. Pandangan syarak dalam masalah ini adalah jelas, iaitu edah mengatasi wasiat.

Mahram dalam ibadat haji sunat atau umrah sunat:

Harus bagi seseorang perempuan menunaikan haji sunat atau umrah sunat tanpa ditemani mahram dengan syarat tertentu mengikut Qaul Muqabilul Asah.

Di antara syaratnya ialah:

# Memastikan tidak ada fitnah.
# Keselamatan diri terjamin.
# Sekiranya bernazar (bukan mengada-adakan alasan nazar bagi tujuan menunaikan haji). [BH]

14.7.06

Soal Jawab Umrah dan Haji: Sunat jika suami isteri bersama ke Tanah Suci

APAKAH persediaan untuk menunaikan fardu haji. Adakah wang perbelanjaan yang cukup menjadi matlamat terpenting dengan tidak mengambil perhatian terhadap perkara lain seperti sembahyang serta wajib, rukun dan cara mengerjakan haji dan perkara lain yang ada hubungan dengannya.

Selain wang perbelanjaan mengerjakan haji, kesihatan dan bekalan yang cukup, bakal jemaah mesti menyiapkan diri dengan ilmu pengetahuan mengenai cara hendak mengerjakan ibadat haji itu daripada rukun, wajib, sunat, sah, batal, haram dan sebagainya.

Sahibuzzubad berkata maksudnya: “ Sesiapa yang membuat amalan tanpa ilmu pengetahuan yang betul maka segala amalannya ditolak dan tidak diterima.”

Adakah wang perbelanjaan menunaikan ibadat haji seseorang isteri wajib ditanggung oleh suami.

Wang perbelanjaan naik haji seseorang isteri tidak wajib ditanggung oleh suami kerana ia tidak termasuk dalam nafkah yang wajib atas suami terhadap isteri. Bagaimanapun, sunat seorang suami mengerjakan haji bersama isterinya.

Terangkan dengan jelasnya apa maksud: (i) Rukun haji (ii) Wajib haji

Adakah menjadi kesalahan kepada jemaah haji sekiranya meninggalkan salah satu daripada perkara itu dan andainya berlaku yang demikian itu sama ada secara sedar atau tidak adakah sah hajinya.

Rukun haji ialah pekerjaan asasi yang mesti dilakukan oleh setiap orang yang mengerjakan haji sekiranya salah satu daripada rukun haji itu tidak dikerjakan sama ada sengaja atau terlupa maka ibadat hajinya tidak sah.

Wajib haji ialah perkara atau pekerjaan yang wajib dilakukan ketika mengerjakan ibadat itu. Jika tidak dikerjakan salah satu daripada perkara wajib haji, maka hajinya sah tetapi wajib ke atasnya dam serta berdosa jika ditinggalkan yang wajib itu dengan sengaja.

Bagaimana cara mengerjakan haji dan umrah.

Cara mengerjakan haji dan umrah ada tiga iaitu cara Ifrad, Tamattuk dan Qiran.

Apa perbezaan di antara ketiga-tiga cara itu.

Mengerjakan haji cara Ifrad ialah dengan berniat mengerjakan haji dulu dalam bulan haji kemudian mengerjakan umrah.

Mengerjakan haji cara Tamattuk ialah dengan berniat mengerjakan umrah terlebih dulu kemudian dikerjakan haji dalam tahun itu juga.

Mengerjakan haji cara Qiran ialah dengan berniat mengerjakan haji dan umrah serentak dalam bulan haji dengan mengerjakan amalan haji saja atau berniat mengerjakan umrah saja, tetapi sebelum tawaf berniat mengerjakan haji.

Mengerjakan haji cara Ifrad tidak dikenakan dam. Sementara, mengerjakan haji cara Tamattuk dan Qiran dikenakan dam dengan syarat tertentu.

Haji yang manakah terlebih afdal (baik) di antara haji Ifrad, Tamattuk dan Qiran.

Mengikut Imam Syafie, haji Ifrad adalah lebih afdal sekiranya umrah dikerjakan selepas haji pada tahun itu juga, kemudian Tamattuk dan Qiran.

Untuk mengerjakan haji Ifrad adakah seorang itu mesti pernah menunaikan fardu haji.

Tidak

Seorang membuat umrah dalam bulan haji kemudian dia keluar semula ke miqat untuk berihram haji seperti ke Bir Ali di Madinah. Adakah haji cara ini dikatakan haji Ifrad atau Tamattuk dan adakah diwajibkan dia membayar dam.

Cara ini dinamakan haji Tamattuk tetapi tidak wajib di atasnya membayar dam kerana dia berniat ihram di miqat. [BH]


Jawapan disediakan Bahagian Bimbingan Lembaga Tabung Haji

Bicara Haji: Kewajipan ibadat haji bergantung keupayaan perbelanjaan, kesihatan

Bersama Abu Hassan Wahab

HAJI pada syarak adalah mengunjungi Baitullah Al-Haram dalam bulan haji kerana mengerjakan tawaf, sai dan wukuf di Arafah dengan menurut syarat serta menunaikan segala wajibnya.

Umrah pula mengikut syarak adalah menziarahi Baitullah Al-Haram kerana mengerjakan tawaf, sai dengan menurut syarat serta menunaikan segala wajibnya.

Cara mengerjakan haji dan umrah

Daripada Zaid bin Thabit, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Mengerjakan haji dan umrah itu dua fardu yang hanya sekali (bagi seseorang Muslim yang cukup syaratnya) boleh dikerjakan yang mana satu dulu (sama ada haji atau umrah).” (Hadis riwayat Addailami)

Pada zahirnya ia membawa beberapa maksud:

i. Sekiranya seseorang itu menunaikan umrah dulu adalah diharuskan, kemudian apabila berkelapangan, menunaikan pula fardu haji.

ii. Menunaikan ibadat haji dalam bulan haji, tetapi ibadat umrah dilaksanakan bukan pada tahun sama. Cara ini dinamakan haji Ifrad mengikut kaedah definisi yang ketiga kerana definisi haji Ifrad ada tiga cara pelaksanaannya.

iii. Yang lebih tepat dan menjurus kepada kehendak hadis itu ialah:

Allah memberi pilihan

i. Sekiranya seseorang itu mengerjakan ibadat haji dulu dalam bulan haji kemudian mengerjakan umrah pada tahun yang sama maka dinamakan haji Ifrad.

ii. Sekiranya seseorang itu mengerjakan ibadat umrah dulu dalam bulan haji kemudian mengerjakan ibadat haji pada tahun yang sama dinamakan haji Tamattuk.

Apa yang dapat kita faham melalui hadis ini ialah Allah memberi kelonggaran dan sesuai dengan kehendak Allah yang tidak ada paksaan untuk melaksanakannya, sama ada seseorang itu hendak mengerjakan haji atau umrah dulu, terpulang kepada keselesaan masing-masing.

Sebetulnya, ramai di antara kita sering terperangkap dengan zahir hadis tanpa dapat menyelami apa yang tersirat, yang Allah dan rasul-Nya mahukan untuk difahami, diamalkan dan sebarkan kepada khalayak.

Syarat wajib haji

Sebahagian kita menghantar ibu bapa masing-masing ke Tanah Suci bagi mengerjakan fardu haji dengan menanggung semua kos perbelanjaan haji mereka, sedangkan yang wajib pergi ketika itu ialah kita sendiri, bukan ibu bapa. Syarat wajib haji ditaklifkan oleh Allah ketika itu kepada kita.

Kita faham, apa yang kita lakukan itu salah satu cara sebagai menghargai jasa baik mereka tetapi perlu diingat mereka tidak ditaklifkan.

Berbeza dengan sumbangan daripada anak atas kadar tertentu. Contohnya, anak menyumbang RM2,000 seorang bagi membolehkan ibu bapa mereka menunaikan fardu haji. Pada syarak dengan RM2,000 mereka belum memenuhi syarat wajib haji. Maka, pengagihan itu di kalangan ahli keluarga bagi membolehkan ibu bapa mereka menunaikan fardu haji diharuskan.

Ramai di antara anak memikirkan ibu bapa mereka sudah berusia, eloklah dihantar ke Tanah Suci untuk menunaikan fardu haji. Dikhuatiri ibu bapa mereka meninggal dunia sebelum menunaikan haji hinggakan mereka berasa bersalah.

Dalam keadaan tertentu, Allah memerintahkan boleh dibuat "haji Badal" untuk ibu bapa atau sesiapa saja yang meninggal dunia dengan ganjaran yang besar terhadap kedua-duanya iaitu orang yang mengerjakan Badal haji dan orang yang meninggal dunia yang dibuat Badal haji untuknya.

Bagaimanapun, syarak menetapkan hukum bagi tujuan itu, sekiranya seseorang itu meninggal dunia dan dia berkemampuan ketika hidupnya untuk menunaikan fardu haji, hukumnya wajib dibuat Badal haji untuknya kerana dia dikira masih berhutang dengan Allah.

Sekiranya dia meninggal dunia, sedangkan dia tidak berkemampuan ketika hidupnya, hukumnya adalah harus sama ada dibuat Badal haji untuknya atau tidak.


Jenis haji mengikut niat

Seperkara lagi yang menjadi masalah kepada sebahagian jemaah haji kita, apabila mereka terpilih masuk ke Makkah dulu sebelum wukuf, mereka sarankan supaya mengerjakan haji Ifrad hingga kadang-kadang membebankan diri mereka. Pada hemat saya, kenapa mereka membiarkan orang lain membuat keputusan bagi pihaknya. Keputusan untuk melaksanakan haji jenis apa pun adalah di tangan kita. Orang lain hanya boleh membantu untuk kita membuat keputusan.

Dari segi syarak, sebetulnya Allah tidak memaksa, bahkan memberi pilihan kepada kita berdasarkan kesesuaian masa, kesihatan dan dalam banyak perkara, bergantung kepada keupayaan kita.

Apa yang menjadi masalah ialah kadang-kadang kita sukar untuk melepaskan sesuatu yang afdal untuk semua orang dengan mengambil sesuatu yang diharuskan, sedangkan yang diharuskan oleh Allah kepada semua orang, itulah yang afdal bagi diri kita (bagi kes tertentu).

Maka itu, cuba elakkan daripada melakukan sesuatu yang afdal (untuk semua orang), tetapi apabila kita lakukan juga, sehinggakan akhirnya terpaksa melakukan Tahallul – Ihsar.

Contohnya, seorang wanita yang dijangka didatangi haid dalam tempoh sehari dua lagi telah melakukan yang afdal untuknya, dengan melontar Jamrah Kubra dan bergunting bagi menghasilkan Tahallul-Awwal.

Dia kemudian datang haid selama dua minggu, apa lagi waktu pulang ke Malaysia sudah dekat.

Kebetulan penerbangan tidak ada kekosongan tempat, sedangkan tawaf dan sai haji belum lagi dilakukan. Maka, mahu tidak mahu, beliau terpaksa pulang juga ke Malaysia.

Beliau dikenakan Tahallul-Ihsar dan kena datang lagi pada bila-bila masa untuk menyelesaikan rukun haji yang belum selesai. Ini bermakna masa dan perbelanjaan tambahan juga terseret sama.

Yang cantiknya kalau beliau memberi keutamaan seperti yang dianjurkan oleh syarak iaitu melaksanakan tawaf dan sai haji dulu dan bergunting. (Harus untuk semua orang, tetapi bagi kes seperti ini afdal untuknya).

Tiba-tiba haid datang selepas itu, beliau boleh pulang ke Malaysia mengikut jadual sekiranya ditakdirkan meninggal dunia, beliau sudah mendapat haji.

Sebab itulah Allah sentiasa perintah kita, lakukanlah sesuatu perkara mengikut kemampuan masing-masing. Jangan lakukan ibadat semata-mata ikutan.

Islam itu syumul, tetapi cara atau pendekatan yang diambil kadang-kadang memperlihatkan bagaikan kita tidak berilmu dan tidak bijak mempraktikkan ilmu yang ada walaupun bijak dan berilmu. Wallahualam.

INTI PATI
Ibadat haji dan umrah

Sekiranya seseorang itu menunaikan umrah dulu adalah diharuskan, kemudian apabila berkelapangan, menunaikan pula fardu haji.


Menunaikan ibadat haji dalam bulan haji, tetapi ibadat umrah dilaksanakan bukan pada tahun sama. Cara ini dinamakan haji Ifrad mengikut kaedah definisi yang ketiga kerana definisi haji Ifrad ada tiga cara pelaksanaannya.

Allah memberi pilihan; Sekiranya seseorang itu mengerjakan ibadat haji dulu dalam bulan haji kemudian mengerjakan umrah pada tahun yang sama maka dinamakan haji Ifrad. Jika seseorang itu mengerjakan ibadat umrah dulu dalam bulan haji kemudian mengerjakan ibadat haji pada tahun yang sama dinamakan haji Tamattuk.

Perbelanjaan haji adalah tanggungan sendiri. Anak dan cucu sekadar membantu mengikut keihlasan mereka. [BH]

Penulis ialah Pengurus Besar (Bimbingan) Lembaga Tabung Haji

7.7.06

Personaliti: Dr Azzam kongsi ilmu dengan ceramah

Oleh Hasliza Hassan

SIAPA Dr Azzam Tamimi, Pengarah Institute of Islamic Political Thought (IIPT) yang berpangkalan di London itu?

Beliau adalah antara ahli panel Seminar Nasional Hak Asasi Manusia dalam Islam anjuran bersama Pertubuhan Jamaah Islam Malaysia (JIM), Kumpulan Karangkraf dan Allied Coordinating Committe of Islamic NGOs (ACCIN) yang diadakan baru-baru ini.

Tetapi, apabila melayari namanya di internet, rupa-rupanya Dr Azzam adalah ahli akademik yang pernah menimbulkan fenomena apabila dengan yakin dan tegas menyuarakan pendapat yang dilihat seakan membela tindakan ‘serangan bunuh diri.’

Apatah lagi, ketika diwawancara Tim Sebastian dalam rancangan HARDtalk di saluran penyiaran BBC pada November 2004, beliau dengan tidak teragak-agak memberitahu, dirinya bersedia melakukan serangan bunuh diri.

Hakikatnya, kesempatan menemui beliau pada seminar lalu tidak membicarakan mengenai kekalutan yang ditimbulkan sebelum ini, tetapi lebih kepada ingin mengenali peribadinya yang dilihat sentiasa tenang dan bersahaja.

Biar berat manapun kerisauan atau kebimbangan yang diutarakan peserta bertanyakan soalan, cara beliau menjawab menimbulkan tanda tanya, apakah beliau tidak serius atau memang keadaan tidak seperti disangkakan.

“Realitinya, apa dikatakan peserta mengenai nasib umat Islam, isu Palestin, hak asasi manusia atau kekejaman yang berlaku adalah benar. Memang keadaan sebenarnya tidak seperti yang kita mahukan.

“Bagaimanapun, dalam menangani kesulitan ini, kita tidak boleh jadi terdesak atau dipengaruhi emosi. Untuk maju ke depan dan mengembalikan kegemilangan umat Islam, kita perlu yakin dan berharap.

“Selain itu, kita kena ada ilmu dan kepakaran. Belajar daripada kesilapan kita dan kesilapan orang lain.

“Kerana itu apabila menjawab soalan, saya suka beri harapan dan beritahu mereka perkara positif terlebih dulu. Lepas itu baru beritahu yang negatif kerana saya nak galakkan mereka berfikir dan berusaha,” katanya.

Katanya, pembabitan beliau secara aktif sebagai penceramah serta ahli panel jemputan, adalah antara usaha beliau berkongsi ilmu dan pemikiran dalam pelbagai isu dengan umat Islam di seluruh dunia.

Dr Azzam berkata, sebagai umat Islam beliau memikul tanggungjawab dan bersandarkan kesedaran itu, misi hidupnya kini ialah mencari dan menyumbang kepada kebangkitan semula umat Islam.

Beliau berkata, apa juga kelebihan yang diberikan Allah seperti kebolehan berceramah dan menulis akan digunakan bagi mempertahankan hak umat Islam dan mengembangkan maklumat yang tepat mengenai Islam.

Anak kelahiran Hebron, Palestin itu, dibesarkan di Kuwait apabila mengikut keluarganya berpindah ketika berumur lapan tahun dan mendapat pendidikan asasnya di sana.

Pada 1974, beliau berpindah ke United Kingdom untuk melanjutkan pelajaran sehingga mendapat ijazah sarjana muda dalam bidang fisiologi di University of Sunderland.

Selepas itu beliau berkerja di beberapa organisasi dan pada 1992, menubuhkan Pertubuhan Kebebasan Bagi Dunia Islam yang beroperasi hingga 1998.

Sebaik menamatkan pengajian peringkat doktor falsafah (PhD) dalam bidang Teori Politik dari University of Westminster, London, beliau menubuhkan IIPT yang menawarkan kursus untuk mereka yang ingin mendalami bidang teori politik dan hak asasi manusia.

Selain aktif berceramah, bapa kepada tiga cahaya mata yang sudah menjadi datuk itu turut memilih bidang penulisan sebagai saluran dakwah dengan menghasilkan kertas kerja dan menerbitkan buku.

Antara buku dihasilkan, Democrat within Islamism, Islam and Secularism in the Middle East, Power-Sharing Islam dan dua dalam bahasa Arab, Musharakat al-Islamiyin Fis-Sultah serta Ash-Shar'iyah as-Siyasiyah fil-Islam.

Menyentuh mengenai Islam yang sering dilempar dengan imej negatif, Dr Azzam berkata, menjadi tanggungjawab umat Islam sendiri untuk menggalakkan bangsa lain mengenali Islam.

Beliau berkata, apa yang berlaku sekarang ialah masyarakat Islam sendiri tidak faham mengenai Islam disebabkan sikap jahil mereka, jadi bagaimana hendak meyakinkan orang lain menerima Islam.

“Orang Islam sendiri tidak tahu mengenai Islam bagaimana hendak harapkan orang lain memahami dan menerima Islam. Apabila mereka jahil mengenai agama sendiri, mereka tidak yakin untuk berdepan dengan bukan Islam.

“Cara terbaik membangkitkan semula Islam ialah dengan menunjukkan keistimewaan Islam melalui contoh ditunjukkan, bagaimana kita membawa diri sebagai orang Islam.

“Mereka yang tahu Islam akan jatuh cinta dengan Islam. Di Barat, ramai sudah mula menerima Islam,” katanya.

Dr Azzam berkata, beliau berbangga dengan sokongan diberikan rakyat negara ini dalam perkara yang berkait rapat dengan Islam terutama perasan dikongsi bersama seperti isu Palestin.

Beliau yang datang ke Malaysia sejak awal 1990-an berasakan Malaysia ibarat rumah sendiri kerana selain mempunyai ramai kawan, beliau senang dengan sikap masyarakatnya yang mudah mesra.

Sebagai tetamu yang sering dijemput ke negara ini, Dr Azzam berkata, beliau mahu dikenali rakyat Malaysia sebagai ‘seorang pengembara yang dalam perjalanan mencari ilmu dan berkongsi pengetahuan yang diperoleh’.

“Saya mencari ilmu untuk belajar dan berkongsi apa yang saya pelajari. Saya bersyukur kerana berjaya menarik perhatian umum dengan idea serta pandangan saya. Inilah sumbangan saya untuk Islam,” katanya.

PROFIL
Nama: Dr Azzam Tamimi
Tarikh Lahir: 15 Mac 1955
Tempat Lahir: Hebron, Palestin

Pendidikan: Ijazah sarjana muda, bidang fisiologi di University of Sunderland. Ijazah doktor falsafah (PhD), bidang Teori Politik di University of Westminster, London

Buku Dihasilkan: Democrat within Islamism, Islam and Secularism in the Middle East, Power-Sharing Islam dan dua dalam bahasa Arab, Musharakat al-Islamiyin Fis-Sultah serta Ash-Shar'iyah as-Siyasiyah fil-Islam [BH]

12.2.06

Tetamu BM: Ekstremis sekular dalangi karikatur hina Muhammad

Join a NEW INCOME program:

http://goldmine.ProBusinessSuccess.com/

Tindak balas umat Islam gugat kepentingan kuasa Barat

PENYIARAN karikatur Nabi Muhammad SAW di dalam akhbar Denmark, Jylland-Posten, menimbulkan kemarahan di kalangan umat Islam seluruh dunia. Tamparan lebih hebat apabila tindakan yang sama dilakukan akhbar lain di Eropah sebagai sokongan. Apakah yang menyebabkan media massa Barat, khususnya Eropah, kelihatan bersekongkol mempersendakan Islam dan umat Islam? Ikuti pandangan Profesor Emeritus Datuk Dr Osman Bakar dari Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Antarabangsa (ISTAC).
Dalam pertemuan dengan wartawan Berita Minggu, ZIAUDDIN SHARUDDIN dan NORAKMAH MAT YOUB, beliau yang juga ahli Forum Ekonomi Dunia (Hubungan Barat-Islam) dan Inisiatif Dialog Dunia (C100) memperjelaskan asal-usul kebiadapan media massa Barat.

KONSEP peradaban tamadun merujuk kepada satu entiti budaya paling besar. Tamadun meliputi segala aspek kehidupan manusia dari segi agama, politik, ekonomi, sains, teknologi dan kebudayaan. Bagaimanapun, ahli sarjana yang mengkaji ilmu tamadun bersependapat inti tamadun ialah agama.

Ini kerana boleh dikatakan semua tamadun manusia dipengaruhi agama dan diasaskan atas nilai agama yang dominan dalam tamadun itu.

Sebelum bercakap mengenai pertembungan tamadun, kita perlu melihat adakah pertempuran agama sudah berlaku kerana agama adalah inti pati tamadun. Saya melihat dari segi dua tamadun yang mempunyai perbezaan dan kesamaan.

Walaupun dua tamadun berbeza, tetapi boleh hidup bersama atas dasar saling menghormati. Itu satu tahap. Tahap kedua, oleh kerana ada perbezaan jadi dua tamadun itu wujud dalam keadaan tegang. Ketegangan antara dua tamadun. Jika lebih dari itu, ketegangan berkenaan akan mencetus perbalahan dan pertempuran. Itu hubungan paling serius antara dua tamadun.

Dalam meninjau hubungan antara dunia Barat dan Islam, kita harus melihat mengikut perspektif yang dijelaskan tadi. Adakah tamadun Barat dan Islam akan mempunyai kesamaan? Sebenarnya, ada banyak kesamaan dan perbezaan.

Ada kesamaan kerana kedua-dua tamadun itu mengambil sumber nilai tamadun dari sumber yang sama. Tamadun Islam pada peringkat awal, antara sumber ialah dari tamadun Greek, iaitu tamadun Barat.

Tamadun Barat juga sama, tetapi cara pengolahan berbeza. Sumber yang sama tetapi menangani dengan cara yang berbeza. Kemudian dunia Barat banyak mengambil dari tamadun Islam ketika zaman keagungan Islam, terutama di Sepanyol, yang diperintah oleh Islam selama lebih kurang 800 tahun dan itu mempengaruhi dunia Barat dalam pelbagai segi.

Sekarang orang Barat banyak melupakan fakta sejarah bahawa sebahagian budaya Barat hari ini sebenarnya adalah daripada tamadun Islam. Barat yang sekarang ini ingin membawa kedua-dua tamadun lebih rapat dan saling memahami akan mengingatkan mereka fakta sejarah ini.

Eropah pinggir agama

KITA harus memahami bahawa tamadun Barat moden yang diasaskan pada kurun ke-16 Masihi berkembang hingga menjadi tamadun yang mempunyai beberapa ciri yang tiada langsung dalam sejarah Barat sendiri.

Di Eropah, agama dipinggirkan dalam kehidupan manusia. Kita harus memahami ini. Golongan yang menghina dan menyiarkan karikatur menghina Nabi Muhammad SAW digelar golongan ekstrem pelampau atau fanatik sekular yang berbeza dengan golongan sekular arus perdana.

Golongan fanatik sekular yang tidak percaya kepada Tuhan, tidak percaya kepada agama datang dari Tuhan, tidak percaya alam kerohanian, tidak ada hidup selepas mati. Perkara yang kita percaya tidak mereka percaya.

Mereka bukan golongan majoriti, tetapi berpengaruh dalam masyarakat dan khususnya, berjaya menjadikan kebebasan bersuara sebagai prinsip dan nilai yang tidak boleh disentuh.

Malah sesetengah orang Barat sendiri mengatakan bahawa kalau hendak faham mengapa orang Barat boleh melukis kartun menghina Nabi Muhammad, sebenarnya mereka ini terlebih dulu sudah menghina Kristian.

Mereka menghina Nabi Isa as, tetapi oleh kerana golongan Kristian di Eropah sudah lemah, mereka tidak berupaya membantah segala penghinaan terhadap agama itu. Ini sudah menjadi perkara biasa dalam masyarakat itu. Itu bukan bermakna paderi bersetuju dengan apa yang berlaku, tetapi suara mereka tidak begitu dilayan di Eropah.

Saya tidak berapa terkejut kerana perbuatan itu pernah dilakukan oleh orang Barat. Cuma yang berbeza ialah senario suasana. Mereka tidak bertanggungjawab dan tidak mahu melihat apakah akibatnya kepada dunia Barat sendiri, apatah lagi hubungan antara tamadun.

Mereka tahu apa yang dilakukan itu akan dimarahi oleh orang Islam dalam keadaan dunia Barat memerlukan majoriti sokongan Islam untuk memerangi keganasan yang dilakukan atas nama Islam. Saya tidak hairan kerana seperti mana mereka sering katakan bahawa kami pernah membuat karikatur terhadap Nabi Isa as, malah terhadap Tuhan kami sendiri.

Kita kena faham golongan itu terdapat di Barat. Ini lebih dikatakan pertembungan golongan antiagama tidak kira agama apa kerana mereka anti terhadap kepercayaan agama.

Kesan ekonomi

DI SEBALIK kontroversi ini, ada perkara baik timbul iaitu orang Barat akan melihat sendiri dan menyemak prinsip kebebasan bersuara yang dipegang selama ini. Mereka terkejut kerana dapat mengalahkan golongan Kristian, tiba-tiba mereka menghadapi reaksi spontan kemarahan umat Islam.

Sekarang, mereka sepatutnya memikirkan soal hubungan ekonomi. Dunia sekarang ini berbeza dengan dunia lampau. Sekarang ini masyarakat global, apa yang berlaku akan meninggalkan kesan terhadap satu sama lain.

Jika mereka sukar untuk memahami, sekurang-kurangnya mereka perlu faham terhadap kesan amali dan praktikal dalam kehidupan Barat. Mereka perlu bimbang apa tindakan negara Islam jika perkara ini berterusan. Mereka kena kaji semula sikap dan tanggapan mereka terhadap Islam selama ini.

Tragedi 11 September mencetuskan perubahan kerana ramai masyarakat Barat di sana meneliti ajaran Islam. Ini adalah antara faktor menguatkan lagi mendesak mereka melihat semula persepsi terhadap Islam dan umat Islam.

Menurut tinjauan umum, persepsi rakyat Amerika Syarikat terhadap Islam didapati lebih 55 peratus memahami Islam. Maknanya perkara yang baik ialah rakyat Amerika Syarikat mengkaji dan mula memahami Islam. Selain itu, semakin ramai memeluk Islam.

Menurut satu tinjauan, lebih 20,000 rakyat Amerika Syarikat memeluk Islam setiap tahun. Bayangkan setiap hari hampir 20 orang memeluk Islam. Kita tengok ada dua kesan selari, iaitu kesan baik dan kesan buruk.

Perbuatan menerbitkan karikatur memang patut dikutuk, bukan saja oleh orang Islam tetapi ramai orang bukan Islam yang mengecam penyiaran karikatur itu. Apa seharusnya kita lakukan? Banyak kelompok umat Islam memperlihatkan tindak balas yang sewajarnya. Mereka mengkritik keganasan.

Bagaimanapun, kita seharusnya mengelakkan tindak balas berbentuk keganasan kerana itu bukan ajaran Islam. Sebagai contoh, katakanlah Nabi Muhammad masih hidup, mungkin paling keras pun tindakan Baginda hanya akan menyaman akhbar itu. Tidak hingga hendak melancarkan perang. Itupun (tindakan mahkamah) mungkin sudah terlalu kasar.

Ada satu hadis yang Allah menasihati Nabi Muhammad yang maksudnya: Kalau ada orang berlaku tidak baik terhadap kamu, doakan kebaikan untuk mereka. Jadi kita ikut apa yang Baginda lakukan.

Memang mudah melepaskan geram dan marah. Kita sedih kerana ramai umat Islam tidak mahu mencontohi Rasulullah dalam perkara berkaitan hubungan kita dengan bukan Islam. Ini satu pengajaran kepada kita juga. Kita bersyukur kerana di Barat, kelompok Islam yang menetap di sana menolak keganasan.

Mereka mahu menggunakan kesempatan ini untuk berdialog dan berdakwah dengan bukan Islam mengenai siapa sebenarnya Nabi Muhammad dan mengapa Islam tidak membenarkan karikatur atau patungnya dibuat.

Umat Islam percaya mereka tidak boleh buat perkara itu, tetapi jarang diterangkan mengapa kita tidak boleh berbuat demikian. Kalau boleh kita nak terangkan kepada golongan bukan Islam di Malaysia. Sedih juga saya kerana Sarawak Tribune menyiarkan gambar itu.

Barat berhati-hati

KESAN daripada penyiaran karikatur ini, dunia Barat akan lebih berhati-hati apabila hendak bercakap dan menyiarkan sesuatu mengenai Islam. Padahnya mereka dapat rasakan. Bagi mereka yang boleh meninggalkan kesan ialah dari segi ekonomi kerana mereka bergantung kepada negara Islam untuk minyak dan eksport barangan mereka.

Senjata boikot ini, saya bersetuju untuk menimbulkan kesan kepada negara Barat tetapi dengan syarat. Patut atau tidak kita menghukum Denmark? Paling penting ialah jawapan daripada pemimpin negara itu, adakah ini pendirian segelintir atau seluruh rakyat Denmark. Yang kita hendak dengar ialah majoriti rakyat Denmark tidak bersetuju dengan perbuatan itu dan meminta maaf. Jika ia hanya segelintir, tidak wajar kita memulau barangan mereka. Itu yang saya gunakan pendekatan Islam. Jangan menghukum secara keseluruhan.

Tidak dapat dinafikan golongan media massa terlalu berkuasa di negara Barat dengan alasan kebebasan bersuara, tetapi apa yang kita lihat ialah sudah ada reaksi media massa Barat terhadap rakan mereka. Maknanya di kalangan media massa sudah ada perbahasan. Kita pertahankan konsep kebebasan media massa, tetapi perlu bertanggungjawab.

Prinsip kebebasan media massa tidak tercemar sedikit pun kalau kita buat keputusan tidak menyiarkan karikatur itu. Mereka menilai semula pendirian mereka terhadap Islam walaupun mereka masih mempertahankan kebebasan bersuara. Kebebasan bukan lagi konsep kebebasan mutlak.

Mengapa Islam menolak penyiaran karikatur Rasulullah? Ini menyentuh kedudukan dan peranan Nabi Muhammad dalam kehidupan setiap orang Islam. Dalam al-Quran ada dinyatakan bahawa Baginda adalah model yang perlu diikuti. Jadi kalau sudah dihina, bererti kita sudah tidak lagi menghargai dan membuka jalan kepada lebih banyak penghinaan, memperolok-olokkan dan mempersendakan seperti media Barat buat kepada Nabi Isa.

Kita tidak mahu itu berlaku dalam Islam kerana jika sudah dipermainkan, maknanya Nabi Muhammad bukan bukan manusia sempurna. Konsep kesempurnaan Nabi akan hilang oleh lukisan kartun itu. Ini penting demi menjaga kedudukan Nabi Muhammad dalam Islam.

Kita hendak menjaga kesucian Islam. Apa yang perlu dilakukan oleh umat Islam yang menetap di Barat ialah mereka menggunakan kesempatan pada masa ini untuk menjelaskan mengapa kita tidak dapat terima karikatur menghina Nabi Muhammad.

Ada pelbagai kelompok di Barat. Ada kelompok yang berpendapat Islam tidak bertoleransi dan tidak boleh dikritik berhubung isu karikatur, tetapi bagi mereka yang sedikit-sebanyak mengenali Islam tahu bahawa pendapat itu tidak betul. Orang Islam sendiri dapat membezakan antara apa yang tidak boleh diubah dan dikritik, iaitu al-Quran.

Apa yang terdapat dalam al-Quran tidak boleh dipinda dan dikritik. Mereka yang tidak tahu langsung mengenai Islam tidak akan menghargai itu. Ada aspek Islam yang boleh dikritik seperti hukum yang tertakluk kepada zaman. Maksudnya, ada peraturan yang mengkaji semula undang-undang syariah yang digubal bertahun lamanya. Ia boleh berubah mengikut peredaran masa. Majoriti orang Barat masih belum memahami apa yang boleh dikritik dan tidak boleh dikritik dalam Islam.

Perjelas kekeliruan

AMERIKA Syarikat sendiri menggunakan media massa untuk menyatakan pendirian negara itu terhadap Islam. Ini sedikit sebanyak mempengaruhi umat Islam sendiri. Misalnya, selepas peristiwa 11 September, Presiden Bush melawat masjid di Washington. Itu meninggalkan kesan cukup besar terhadap umat Islam. Majoriti pertubuhan Islam di Amerika Syarikat mengalu-alukan penjelasan yang dibuat Presiden Bush.

Berhubung isu karikatur, kita juga patut lakukan perkara yang sama. Misalnya di Kuala Lumpur, jika ada yang memanggil semua duta negara bukan Islam, khususnya Eropah untuk menerangkan pendirian kita, bukan saja media tempatan tetapi media antarabangsa dipanggil, ini meninggalkan kesan untuk memperjelaskan yang kami marah dan tidak setuju. Kalau boleh kita terangkan mengapa umat Islam tidak boleh menerima perbuatan itu.

Ada masanya, kalau tidak pun kerajaan tetapi golongan tertentu dalam media massa atau agama mereka tidak mahu hendak membezakan kelompok yang ekstrem dan masyarakat arus perdana. Mereka tidak bezakan, tetapi sebenarnya mereka perlu bezakan antara kelompok ini kerana pendirian mereka berbeza.

Kita tidak meminta menarik balik prinsip kebebasan bersuara, tetapi kalau dia menghormati kebebasan pelampau sekular ini untuk menyiarkan karikatur, mereka juga mempunyai kebebasan untuk tidak bersetuju dengan penyiaran itu.

Adalah penting untuk pemimpin negara itu untuk membuat kenyataan yang mereka tidak bersetuju sama sekali. Tetapi apa yang kita lihat, mereka langsung tidak bersuara kononnya menghormati kebebasan bersuara.

PROFIL
Prof Emeritus Datuk Dr Osman Bakar

Asal: Kampung Bukit Lada, Temerloh, Pahang
Umur: 59

Pengalaman akademik:
Ijazah Sarjana Muda Sains (Matematik), Universiti London (1970), Ijazah Sarjana Matematik Universiti London (1971), Ijazah Doktor Falsafah (PhD) Falsafah Islam, Universiti Temple, Amerika Syarikat (1987).

Pengalaman kerjaya:
Pensyarah Jabatan Matematik, Universiti Kebangsaan Malaysia (1973-1977), Pensyarah Fakulti Sains, Universiti Malaya (1978-2000), Penyandang Kursi Profesor Falsafah Sains Universiti Malaya (1992), Sarjana Pelawat Sejarah Sains Universiti Harvard Amerika Syarikat (1992) dan Penyandang Kursi Malaysia bagi bidang Islam Asia Tenggara di Universti Georgetown, Amerika Syarikat (2000).

Pengalaman Pentadbiran Universiti:
Timbalan Dekan Fakulti Sains, Universiti Malaya (1990) dan Timbalan Naib Canselor (Akademik) Universiti Malaya, 1995







©The New Straits Times Press (M) Berhad

12.1.06

Personaliti: Dr Sharifah Hayaati warisi kebolehan ibu bapa galas tugas penceramah profesional

Oleh Jami’ah Shukri


MENJADI
penceramah profesional dalam bidang keagamaan langsung tidak terlintas di kotak fikirannya.

Malah, minat dalam bidang itu sama sekali tiada dalam senarai cita-cita asalnya walaupun datuknya, Syed Mohamad Al-Mahsoor dan ibunya, Sharifah Fatma Syed Mohamad adalah antara penceramah bebas terkenal di Johor Bahru, Johor suatu ketika dulu. Bapanya juga kerap memberi ceramah di peringkat jabatan kerajaan.

Pada awalnya, Dr Sharifah Hayaati Syed Ismail memang berasa tidak berkemampuan menjadi penceramah. Hal ini kerana perlu berhadapan dengan pelbagai lapisan umat Islam dan khuatir gagal menyampaikan ceramah dengan berkesan.

Cita-cita dan matlamat utama menjadi pensyarah terbaik serta berdedikasi sebagai kerjaya profesional.

Bagaimanapun kini, Pensyarah Kanan, Jabatan Siasah Syariah, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya itu, akhirnya akur dengan kebolehan sebenarnya beliau memang mempunyai aura tersendiri sebagai penceramah profesional. Kehadirannya memikat dan begitu disenangi serta diminati ribuan umat Islam di negara ini. Ini sekali gus mewarisi darah turun temurun sebagai penceramah agama.

“Apabila teringat semula, saya terfikir ia mungkin satu doa ummi (panggilan untuk ibunya) yang pernah meminta saya supaya menggantikan tempatnya sebagai penceramah suatu hari nanti.

“Mungkin juga disebabkan banyak pendedahan dan dorongan di kalangan keluarga, kerap melihat dan mengikut ibu berceramah agama, ia memberi input kepada saya terbabit dalam bidang itu,” katanya.

Kini, jadual hariannya amat ketat sekali kerana perlu memenuhi undangan menyampaikan ceramah, Beliau menerima banyak undangan menyampaikan ceramah pada pelbagai tempat termasuk di luar negara seperti Brunei dan Singapura.

Pembabitan awalnya dalam bidang itu adalah secara kebetulan apabila diperkenalkan oleh pensyarahnya, Prof Datuk Dr Mahmmod Zuhdi Abd Majid, sekembalinya dari Britian kepada penerbit di Radio Televisyen Malaysia (RTM).

“Pertama kali adalah dalam slot pendek segmen agama terbitan RTM1, iaitu pada 1998. Diikuti beberapa program agama lain sebelum dilihat semakin kerap muncul dalam Forum Perdana,” katanya.

Dr Sharifah Hayaati berpendapat kerjaya sebagai pensyarah dan penceramah profesional saling melengkapi serta memberi banyak pendedahan. Perkara ini kerana ia secara tidak langsung sebagai satu cara untuk memperkayakan ilmu pengetahuan dalam bidang keagamaan.

Interaksi dan komunikasi setiap hari dengan pelajar banyak membantunya meningkatkan keyakinan, keberanian dan menambah kepetahannya bercakap ketika berhadapan dengan penonton.

Beliau percaya sekiranya sudah ada keupayaan dalam bidang itu, seharusnya terus disemai bagi mengelak ia hilang sentuhannya.

“Saya berpendapat untuk menjadi penceramah agama, seseorang itu perlu ada ilmu, minat, dedikasi, kerap menjalankan kajian atau penyelidikan serta bersedia berkorban masa dan tenaga,” katanya.

Selain itu, tidak kurang penting, seseorang penceramah itu perlu mengenal pasti dengan mengkaji latar belakang kumpulan sasar, tahap pendidikan, lokasi dan peringkat umur orang yang ingin mendengar ceramah.

Metadologi yang diguna pakai penceramah juga perlu kena dengan gaya dan persembahannya supaya dapat diterima oleh semua pihak mengikut kumpulan sasar berkenaan.

“Kalau kita menggunakan bahasa yang terlalu tinggi, sedangkan hanya untuk memberi ceramah agama kepada orang kampung, pasti ia tidak difahami dan menimbulkan kebosanan.

“Oleh itu, ceramah perlu disampaikan dengan gaya dan bahasa yang mudah difahami golongan tertentu.

“Berceramah juga perlu ada seninya. Intonasi suara tidak terlalu keras sehingga boleh menakutkan pendengar atau sebaliknya.

“Kita perlu pandai bermain dengan bahasa juga. Kita tidak mahu jadi penceramah yang syok sendiri,” katanya yang mempunyai aset wajah yang lembut dan menarik.

Dr Sharifah Hayaati mendedahkan ada ibu yang datang kepadanya dan menyatakan apakah resipi digunakan kerana anaknya begitu meminati ceramah.

Justeru, beliau yakin semua metadologi yang diamalkan itu adalah hasil daripada kerja kuat yang sentiasa memperbaiki diri dan keterampilan untuk menjadi yang terbaik.

Beliau mengagumi Prof Dr Mahmood Zuhdi dan Prof Diraja Ungku Aziz dari segi pemikiran dan keterampilan mereka dan boleh dianggap mentornya dalam bidang ini.

Dr Sharifah Hayaati tidak pernah memilih topik bagi setiap ceramahnya. Baginya sebagai penceramah perlu sentiasa bersedia dan dibekalkan dengan ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang bagi memudahkan tugasnya.

Ditanya mengenai bagaimana membahagikan masa antara kerjaya dan rumah tangga, beliau berkata semuanya dapat diuruskan dengan baik berikut sokongan daripada suaminya yang juga mengajar di Institut Victoria, Kuala Lumpur.

Beliau juga bertuah kerana suaminya begitu memahami tugas yang sentiasa sibuk. Jadual hariannya amat ketat, iaitu pada hari biasa bekerja sebagai pensyarah, manakala pada lazimnya setiap hujung minggu atau malam memenuhi undangan berceramah agama di pelbagai tempat.

Oleh itu, Dr Sharifah Hayaati amat menghargai masa dan akan digunakan sepenuhnya bagi memastikan kebajikan keluarga tidak terabai. [BH]

15.11.05

Ensiklopedia Nusantara: Penulis kitab Taj as-Salathin masih diragui

Bersama Wan Mohd Shaghir Abdullah

GCISurf - Get Stability, Great Support, Excellent Benefits

TAJ as-Salathin dianggap kitab bertujuan membentuk peradaban raja Melayu, maka beberapa salinan tersimpan dalam istana.

Tidak sedikit pengkaji menyebut bahawa Taj as-Salathin adalah karya Bukhari al-Jauhari. Bagaimanapun, bagi saya masih sangat meraguinya, kerana hingga kini saya belum menemui manuskrip yang menyebut nama Bukhari al-Jauhari itu.

Judul ini adalah tidak asing bagi pengkaji sastera Melayu klasik baik yang berasal dari dunia Melayu mahupun golongan Barat (orientalis).

Begitu pun, pelajar termasuk mereka yang belajar sastera dan bahasa Melayu, termasuk pengkaji, barangkali tidak berapa yang mengenali Taj as-Salathin dalam bentuk Melayu/Jawi, iaitu tulisan asal yang digunakan dalam penulisan judul ini.

Taj as-Salathin yang diterjemahkan ke bahasa Belanda telah lama diperkenalkan. Roorda van Eijsinga menerbitnya bersama teks Melayu/Jawi di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1827.

Dalam bahasa Perancis pula diusahakan oleh Marre pada 1878. Pada 1420 hijrah/1999 saya berhasil memperoleh dua manuskrip Taj as-Salathin.

Satu diperoleh di Mempawah, Kalimantan Barat, Indonesia dan yang sebuah lagi di Dabo' Singkep, Kepulauan Riau. Manuskrip dan edisi cetakan Tajus Salathin dengan ringkas dibicarakan sebagai berikut:

Taj as-Salathin versi Lingga.

Manuskrip ini diperoleh di Pulau Lingga, maka saya namakan Taj as-Salathin versi Lingga.

Data versi ini dengan judul terjemahan dalam bahasa Melayu, Makuta Segala Raja. Tidak ada nama pengarang.

Pada halaman akhir tercatat: "Tamat kitab ini kepada sembilan belas hari bulan Zulhijjah, Sabtu, jam pukul dua belas, hijrah Nabi SAW seribu dua ratus lima puluh tujuh tahun (19 Zulhijjah 1257/1841, pen:). Encik Yusuf empunya kitab ini. Encik Utsman yang menyuratnya, fakir Terengganu yang amat hina serta miskin dan bebal kepada makhluk Allah Taala yang banyak.

Jika benar jangan dipuji,

Jikalau salah pun mi(n)taklah betuli

Kerana fakir menyurat belung pahang (maksudnya: belum faham, pen:) lagi, mi(n)taklah tuan-tuan dan encik-encik baiki.

Di mana yang lebisy (maksudnya: lebih, pen:) dan yang kurang telah haraplah baiki dia adanya ..."

Saya peroleh manuskrip Taj as-Salathin di Dabo' Singkep pada 11 Jamadilawal 1420/23 Ogos 1999 daripada bekas milik Tuan Guru Encik Arifin (meninggal dunia 21 Ramadan 1407/22 Mei 1987) bin Muhammad Shalih bin Sulaiman. Beliau memperolehnya daripada Encik Fatimah, tercatat pada halaman akhir dengan menggunakan pensil: "Yang empunya kitab ini iaitu Encik Fatimah di dalam negeri Lingga adanya."

Encik Fatimah memperolehnya daripada Encik Yusuf. Ada catatan pada halaman depan: "Milik al-faqir al-haqir adh-dha'if Encik Yusuf Shalih dari Sultan Mahmud bin al-Marhum Muhammad Syah, syahru Rejab 12, sanah 1259 (hijrah)."


Taj as-Salathin versi Pontianak

Ada dua manuskrip Taj as-Salathin yang saya peroleh di Pontianak, Kalimantan Barat. Oleh kerana, manuskrip yang dibicarakan ini ada dua versi, saya namakan Taj as-Salathin Pontianak versi A dan Taj as-Salathin Pontianak versi B.

Taj as-Salathin Pontianak versi A terjemahan dalam bahasa Melayu ialah Mahkota Segala Raja-Raja. Tidak ada nama pengarang seperti Taj as-Salathin versi Lingga.

Nama penyalin dinyatakan: "Syahdan maka adalah yang menyuratnya hamba al-haqir al-faqir ilallahi Ta'ala Al-Haji Muhammad Thaha ibnu al-Marhum Abu Na'im." Tarikh salinan dinyatakan pada halaman akhir, "Tamat al-Kitab Taj as-Salathin ini di dalam negeri Pontianak kepada dua puluh dalapan hari bulan Jamadilakhir, Ahad, waktu jam pukul satu sanah 1306 hijrah (28 Jamadilakhir 1306/1888)."

Manuskrip berasal dari Istana Qadriyah (Istana Sultan Pontianak). Kemudian dihadiahkan kepada Pangeran Temenggung Kerajaan Sanggau. Pangeran Temenggung Kerajaan Sanggau menghadiahkan kepada Penembahan Muhammad Taufiq Aqamuddin.

Manuskrip Taj as-Salathin versi ini menjadi koleksi saya pada 28 Februari 1999 yang diperoleh di Mempawah.

Taj as-Salathin Pontianak versi B saja yang ada nama pengarang. Datanya dinyatakan nama pengarang pada mukadimah sebagai yang berikut, "asy-Syeikh 'Abdullah bin Muhammad bin Abi Bakar bin asy-Syeikh Ibrahim al-Mashri... bahawa adalah aku bertemu dengan seorang sauda(ra)ku Tuan Khathib 'Abdus Salam bin Orang Kaya Seri Wangsa, Wazir Orang Melayu Petapahan, lagi mempunyai ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Maka sanya telah membicarakan ia akan ilmu syariat dan hakikat dan bijaksana ia kepada membicarakan daripada segala ilmu dunia dan ilmu akhirat. Maka, berkehendak ia kepada al-haqir ilmu pengajar akan segala raja-raja yang memerintah negeri.

“Dan kata Tuan Khathib 'Abdus Salam, adalah ia meninggalkan negeri Petapahan, maka sangat hendak berbuat bakti akan raja dan datuk-datuk penghulu yang memerintah negeri Petapahan itu. Maka sanya yang niat berbuat baik akan raja-raja itu wajib atas segala manusia..."

Taj as-Salathin versi ini diselesaikan pada 7 Rabiulakhir 1236/1820. [BH]

9.11.05

Tafsir al-Quran - Kenapa jumlahnya mencecah ribuan?

Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD AL-BAKRI

AL-QURAN boleh diletak kan dalam saku dibawa ke mana-mana untuk dibaca, dihayati dan tadabbur, tetapi apabila dilihat kepada tafsir-tafsirnya ada yang menjangkau puluhan jilid dan cukup luas.

Dalam hal ini, Abdul Latif as-Subkhi melalui kitabnya Fi Riyad al-Quran, halaman 132 menjawab : Ini kerana cabang-cabang al-Quran terlalu banyak, sama ada tasyri' untuk ibadat yang fardu dan sunatnya, haram dan makruh.

Ada bidang sosial dan kemasyarakatan, institusi kekeluargaan, ekonomi, politik, hukum mahkamah, peperangan dan lain-lain.

Semuanya adalah limpahan khazanah yang tidak mampu dikuasai oleh satu akal sahaja. Justeru setiap ulama yang mempunyai kepakaran dalam bidangnya, akan menumpukan lebih kepada bidangnya dan yang lain dengan bidang yang lain.

Antara alasan yang kuat ialah kerana al-Quran bersifat hidup, anjal dan serasi pada semua tempat, keadaan dan masa.

Justeru penemuan-penemuan hakikat baru mungkin wujud, sedangkan zaman dahulu tiada. Antara lain wujudnya mazhab-mazhab fikah mempengaruhi tafsiran mereka mengikut pegangan mazhab.

Oleh kerana itu, al-Quran akan di-tafsirkan dan terus ditafsirkan, tanpa selesai sehingga kiamat menandakan luasnya ilmu Allah dan mukjizat al-Quran itu sendiri.

Melihat kepada tafsiran ulama ayat-ayat al-Quran, terdapat kekhilafan antara mereka. Antara faktor yang menyumbang kepada kekhilafan ini seperti yang dinyatakan oleh Ibn Juzai di dalam kitabnya at-Tashil Li Ulum at-Tanzil 1/9.

1. Ikhtilaf al-Quran.

2. Ikhtilaf wajah I'rab sekalipun qiraat sepakat.

3. Ikhtilaf ahli bahasa pada makna kalimah.

4. Isytirak lafaz antara dua makna atau lebih.

5. Ihtimal umum dan khusus.

6. Ihtimal itlak dan taqyid.

7. Ihtimal hakikat atau majaz.

8. Ihtimal idhmar atau istiqlal.

9. Ihtimal kalimah yang lebih. (Tiada lebih dalam al-Quran mengikut pendapat ulama yang kuat seperti Syeikh as-Sya'rawi.)

10. Ihtimal bahawa hukum itu mansukh atau muhkam.

11. Ikhtilaf riwayat dalam tafsir daripada Nabi s.a.w. dan salaf.

12. Ihtimal menanggung kalam sama ada tertib atau taqdim dan ta'khir.

Kemungkinan ditanya kepada seseorang, Apakah keperluan kepada tafsir? Ini kerana al-Quran kitab yang nyata, mudah difahami?

Al-Qardhawi menjawab antara lain: Manusia amat perlu kepada tafsir al-Quran sehingga kefahamannya betul dan menepati kehendak Allah dan dapat beramal dengan sahih. Justeru Allah menuntut daripada mereka tadabbur al-Quran.

Mengikut as-Suyuti dalam Itqan 4/173, telah ijma' ulama bahawa belajar ilmu tafsir adalah fardu kifayah dan semulia-mulia ilmu yang tiga, iaitu tafsir, hadis dan fikah. Begitu juga pendapat al-Asbahani.

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah ketika ditanya nama-nama kitab tafsir yang paling hampir kepada kitab dan sunah menegaskan, bahawa tafsir Muhammad bin Jarir at-Tabari adalah yang paling tinggi, yang memuatkan segala kenyataan salaf dan sanad-sanad yang thabit tanpa ada unsur-unsur bidaah.

Ibn Jarir juga tidak menaqalkan dalam tafsirnya, orang yang dipertikai kewibawaannya seperti Muqatil bin Bukair dan al-Kalbi.

Tafsir yang tidak ma'thur dengan sanad-sanadnya terlalu banyak, seperti tafsir Abdul Razzak, Abdun bin Humaid, Waki', Ibn Abi Qutaibah, Ahmad bin Hanbal, Ishak bin Rahuyah.

Antara tafsir yang banyak daripada unsur-unsur bidaah dan hadis-hadis daif ialah Tafsir al-Baghawi tetapi beliau meringkaskannya daripada Tafsir ath-Tha'labi, Tafsir al-Wahidi yang juga murid kepada ath-Tha'labi yang banyak faedahnya.

Adapun Tafsir az-Zamakhsari, terdapat banyak unsur-unsur bidaah dan berasaskan kepada golongan mu'tazilah daripada ingkar sifat, ru'yah dan pendapat al-Quran sebagai makhluk dan lain-lain.

Unsur akidah mereka (al-Mu'tazilah) lima perkara : Tauhid, keadilan, manzilah antara dua kedudukan, melaksanakan ancaman, dan amar makruf serta nahi munkar.

Tafsir al-Qurtubi lebih baik dan selamat daripada bidaah. Perbincangan Tafsir Qurtubi lebih kepada fikah. Tafsir Ibn Atiah pula lebih baik daripada Tafsir az-Zamakhsari dan lebih sahih naqalnya serta jauh daripada terjebak kepada bidaah.

Sebenarnya tafsir terlalu banyak, lebih daripada ratusan, mungkin ribuan tafsir yang masih ditulis daripada ulama-ulama Nusantara sama ada Indonesia, Patani, Singapura dan Malaysia.

Justeru mengkaji banyak tafsir amat penting sehingga Syeikh as-Sobuni mengarang kitab Sofwah at-Tafasir yang dikutip daripada ulama-ulama yang terkemuka.

Dicadangkan tafsiran al-Quran dengan cara mengemukakan ayat dan asbab an-Nuzul serta maksud kalimah dan bahasa yang dikehendaki.

Juga intipati hidayah yang dapat diambil daripada ayat tersebut untuk dihayati, tadabbur amali dan diyakini. Semoga dengan cara ini kita menjejaki para sahabat yang bacaan ayatnya tidak banyak tetapi disertakan sekali dengan kefahaman, penghayatan, amalan dan juga keimanan.

Justeru ia lebih mudah dan menyenangkan daripada membuka medan perbahasan fikah, tauhid, tasawuf, lughah atau lainnya. Tanpa dinafikan semuanya baik dan elok mengikut kepakaran dan kecenderungan ahli tafsir serta pengaruh persekitaran dan guru-guru mereka.

DR. ZULKIFLI BIN MOHAMAD AL-BAKRI, Pensyarah Kanan Kolej Uniti, Pasir Panjang, Port Dickson, Negeri Sembilan.

[UM]

My Headlines